Inspirasi Tanpa Batas Dari Bapak Mertua

by - November 11, 2018


My father in law loved his son and grandchildren, yet also genuinely love me as a daughter
Sore itu, hari jumat tanggal 28 September 2018 saya pulang ke rumah dengan menggunakan jasa layanan taxi online. Setelah melakukan pemesanan via aplikasi di smartphone, tak lama kemudian ada panggilan telepon masuk ke ponsel saya. Terdengar suara seorang perempuan menyapa saya untuk mengkonfirmasi pesanan. Beberapa menit kemudian, taxi online pesanan sayapun tiba.

"Tujuannya sesuai map ya mbak?" tanya driver taxi online yang ternyata seorang wanita cantik paruh baya. "Iya mbak" jawab saya."Siapa yang meninggal mbak? kok di rumah ada tenda dan bendera putih?", tanya driver taxi online yang saya baca profilnya bernama mbak Benedicta. "Bapak mertua saya mbak, baru tadi siang jam 11an meninggalnya. Ini saya mau pulang ke rumah ambil baju ganti buat saya, suami dan anak-anak. Tadi habis dari kantor saya langsung kesini karena ditelpon tetangga kalau bapak meninggal...saya buru-buru kesini tanpa sempat mampir ke rumah", jawab saya.

"Bapak mertua meninggal karena sakit apa mbak?", tanya mbak Benedicta melanjutkan obrolan. "Enggak sakit apa-apa mbak. Tadi pagi bapak masih sempat mengantar ibu mertua ke pasar dan bantuin masak. Sebelum sholat jumat, bapak hanya mengeluh agak pusing lalu bilang sama ibu mau tidur sebentar. Bapak sempat pesan sama ibu kalau waktu solat jumat sudah tiba minta untuk dibangunkan. Tapi saat ibu mertua saya mau membangunkan menjelang sholat jumat, ternyata bapak sudah nggak ada mbak", jawab saya menjelaskan. "Bapak mertua meninggalnya enak banget ya mbak, pas beliau sedang tidur dan pas hari jumat lagi. Pasti bapak orang baik" ucap mbak Benedicta menanggapi cerita saya. 

Mendengar ucapan mbak Benedicta, tiba-tiba saya tak kuasa menahan air mata saya. "Iya mbak, bapak mertua saya itu baiiiik banget. Makanya saya merasa sangat kehilangan mbak". Lalu tanpa bisa saya bendung, saya mulai curhat sama mbak Benedicta tentang betapa sedihnya saya karena kehilangan bapak mertua secara tiba-tiba. "Bapak itu sayang dan dekat banget sama anak-anak saya mbak, karena cucu yang ada di Jogja ya cuma anak-anak saya. Cucu yang lain jauh di Bandung. Selama saya dan suami pergi kerja, anak saya yang paling kecil diasuh sama bapak dan ibu mertua. Mereka sendiri yang meminta. Katanya kalau ada cucu di rumah malah bisa jadi hiburan. Selain itu juga supaya saya dan suami bisa kerja dengan tenang dan tidak repot mencari pengasuh".
Bapak mertua sangat dekat dengan anak-anak saya
"Bapak mertua saya itu juga baik banget sama saya, malah baiknya itu kadang melebihi bapak kandung saya. Contohnya, kalau pas saya lagi ditinggal suami saya dinas luar kota, saya biasa nginep di rumah mertua. Selama nginep di rumah mertua, saya selalu kalah bangun pagi sama bapak. Nah, pas saya bangun, bapak itu sudah nyiapin air panas buat saya mandi. Trus kalau saya belum sempat nyetrika seragam, tiba-tiba saja seragam kerja saya udah disetrikain sama bapak. Bahkan sepeda motor saya juga sudah dibersihin bapak dan saya tinggal pakai. Kadang saya sampai nggak enak sama bapak. Tapi bapak itu memang begitu orangnya mbak. Baik banget sama semua orang dan tanpa pamrih", kenang saya sambil terisak. "Wah..beruntung sekali mbak punya bapak mertua sebaik itu. Jarang lho, ada bapak mertua sesayang itu sama menantu. Yang sabar dan ikhlas ya mbak, pasti sekarang bapak sudah tenang di surga sama Tuhan", ucap mbak Benedicta mencoba menghibur saya. "Amin...terimakasih ya mbak sudah berkenan mendengarkan curhat saya", jawab saya.

Selang beberapa menit kemudian mbak Benedicta terlihat agak sibuk membaca pesan yang masuk di ponselnya. Sambil mengemudi, ia meminta ijin pada saya untuk menelpon sebentar. "Mbak..maaf ya saya mau telpon suami saya sebentar. Ini barusan ada kabar kalau Palu gempa. Anak-anak dan ibu mertua saya ada disana. Saya mau telpon suami dulu untuk mencari info tentang mereka", kata mbak Benedicta meminta ijin. "Silahkan mbak..", jawab saya.

Lalu saya dengar mbak Benedicta mulai menelpon suaminya. Saya dengar nada bicara mbak Benedicta masih tetap tenang dan tidak panik sama sekali. Setelah ia selesai menelpon suaminya, saya gantian bertanya. "Mbak aslinya dari Palu?", tanya saya. "Enggak mbak, saya orang Jogja. Yang dari Palu suami saya. Tapi sekarang suami saya kerja di Jogja. Anak-anak masih di Palu sama ibu mertua karena mereka sekolah disana", jawab mbak Benedicta. "Ooo..begitu, ngomong-ngomong gempa yang di Palu berapa SR mbak? barusan ya mbak gempanya?", tanya saya lagi. "Iya mbak baru saja ini, saya dapat kabar sms dari teman. Infonya sekitar 7 SR dan ada peringatan tsunami. Tadi waktu saya telpon suami, katanya suami sudah coba telpon keluarga di Palu tapi belum bisa dihubungi. Mungkin masalah jaringan", kata mbak Benedicta menjelaskan. "Semoga keluarga aman ya mbak", kata saya menanggapi. "Amin..semoga semuanya aman mbak," jawab mbak Benedicta.

Tak terasa perjalanan menuju ke rumah saya sudah hampir sampai. "Sudah mau sampai mbak, yang mana rumahnya?", tanya mbak Benedicta kepada saya. Lalu saya mulai memberikan arahan menuju rumah saya. Setiba di depan rumah, saya segera membayarkan uang sesuai jumlah yang tertera pada aplikasi. "Terimakasih ya mbak, yang sabar dan ikhlas ya. Doa saya semoga bapak mertua tenang di surga" kata mbak Benedicta sambil tersenyum mengakhiri obrolan kami selama di perjalanan. "Sama-sama mbak, semoga keluarga mbak di Palu juga baik-baik saja", jawab saya membalas doa mbak Benedicta. Lalu mobil yang dikendarai mbak Benedicta segera berlalu dan saya segera masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan baju yang akan saya bawa serta menjalankan ibadah solat magrib.

Sesudah sholat magrib, tangis saya kembali pecah karena teringat bapak. Terlintas di benak saya tentang kenangan indah saya bersama bapak mertua. Sejak menikah dengan suami, saya benar-benar merasa menemukan keluarga baru yang menyayangi saya serta mau menerima kondisi saya apa adanya. Saya berasal dari keluarga broken home. Bapak kandung saya sudah menikah lagi dan saya jarang bertemu dengan beliau. Namun saya beruntung karena memiliki bapak mertua yang sangat baik. Selama ini kalau saya sibuk bekerja hingga kadang harus lembur sampai sore dan tidak bisa menjemput anak saya pulang sekolah, maka bapak mertua lah yang membantu menjemput anak saya. Bapak juga sering tiba-tiba datang berkunjung ke rumah saya hanya untuk mengantarkan makanan kesukaan anak-anak saya. Karena begitu banyak bantuan dan kebaikan yang dilakukan mertua saya, maka setiap weekend tak jarang kami mengajak bapak dan ibu mertua untuk refreshing makan diluar sesekali. 
Saat weekend, kami sering mengajak bapak dan ibu mertua refreshing makan di luar
Selain itu setiap bulan saya juga sering diam-diam membelikan bapak pulsa dan membayarkan tagihan listrik rumah dengan menggunakan TCASH. Awalnya bapak tidak tau kalau saya melakukan hal tersebut. Namun suatu hari bapak cerita ke saya kalau beliau bingung lantaran merasa tidak beli pulsa tapi kok sering ada kiriman pulsa masuk. Lalu saat pergi ke kantor pos untuk bayar listrik, ternyata sudah ada yang membayarkan tagihannya. 
TCASH sangat memudahkan saya dalam membalas kebaikan bapak mertua
Akhirnya saya cerita kalau saya yang mengirimkan pulsa dan membayarkan tagihan listrik. " Apa kamu nggak repot kalau harus mampir ke kantor pos untuk bayar listrik setiap bulan? masih ditambah mampir ke counter hp buat beli pulsa. Kamu kan harus kerja", tanya bapak kala itu. "Enggak pak, beli pulsa dan bayar listriknya kan pakai TCASH" jawab saya. "TCASH itu apa?", tanya bapak lagi. "TCASH itu layanan uang elektronik yang dikeluarkan oleh Telkomsel dan bisa digunakan sebagai alat pembayaran. Meskipunpun penyedianya Telkomsel, namun aplikasi ini bisa digunakan oleh seluruh pelanggan Telkomsel dan non Telkomsel. Ini mirip seperti rekening bank, tapi nomer rekeningnya pakai nomer hp kita pak. Kalau TCASH nya sudah aktif nanti bisa ditransfer dengan sejumlah uang untuk membayar berbagai macam transaksi. Cara Pakai TCASH gampang banget, cukup dengan menggunakan smartphone saja. Dengan TCASH saya nggak perlu mampir ke kantor pos untuk bayar listrik. Nggak perlu juga mampir ke counter hp untuk beli pulsa. Semuanya bisa saya lakukan dari kantor sambil kerja pak", kata saya menjelaskan. Mendengar penjelasan saya bapak hanya tersenyum sambil berkata, "Bisa buat bayar sedekah juga nggak TCASH nya?". "Ooo...bisa banget pak, mau bayar sedekah, bayar pembelian BBM, bayar pembelian makan dan minum, hingga beli tiket perjalanan juga bisa. Asal transaksinya di Merchant TCASH. Banyak kok merchant yang sudah kerjasama dengan TCASH. Jadi kalau pas pergi dan dompet ketinggalan, asal ada saldo TCASH di smartphone masih aman pak", jawab saya melengkapi penjelasan tentang TCASH. "Wah..canggih ya. Kapan-kapan bapak diajarin ya cara pakai TCASH", kata bapak. Iya...waktu itu saya sempat berjanji akan mengajarkan cara #pakeTCASH pada bapak, tapi belum sempat terwujud janji saya ternyata bapak malah sudah pergi untuk selamanya.
Tentang TCASH
Usai sholat magrib dan mendoakan bapak, saya segera mandi serta menyiapkan baju ganti yang akan saya bawa kembali ke rumah mertua. Suami dan anak-anak saya masih di rumah mertua menemani ibu. Saya pulang ke rumah sendirian saja karena memang hanya untuk keperluan mengambil baju ganti. Malam itu kami semua akan menginap di rumah mertua karena esok harinya adalah hari pemakaman bapak. Bapak akan dimakamkan esok hari karena malam itu masih menunggu kedatangan keluarga kakak ipar saya dari Bandung dan Jakarta. Setelah semua barang yang akan saya bawa siap saya kembali memesan taxi online melalui aplikasi. Sambil menunggu mobilnya datang, saya duduk di ruang keluarga seorang diri sambil menonton televisi. Ternyata di TV sudah ada berita tantang gempa Palu. Seketika saya langsung ingat dengan cerita mbak Benedicta, driver taxi online yang sore tadi mengantarkan saya pulang.

Karena penasaran dengan berita gempa Palu, selain nonton TV saya juga mencari info melalui sosial media. Ternyata bencana gempa di Palu ini tergolong dahsyat. Saya sampai merinding ketika melihat video-video kejadian bencana yang sempat terekam dan dishare di sosial media. Melihat hal itu, saya kembali berdoa semoga keluarga mbak Benedicta yang ada di Palu semuanya selamat dan baik-baik saja. Saya memang tidak terlalu kenal dengan mbak Benedicta, namun saya terkesan dengan kebaikan dan keperduliannya dalam menenangkan saya selama saya curhat di dalam perjalanan pulang tadi sore. Jujur saja, hati saya jadi agak lebih tenang setelah bisa curhat dan menangis untuk melepas kesedihan. Sebelumnya dada saya terasa sesak karena saya sama sekali tidak bisa menangis. Mungkin karena saya masih shock dan sibuk menenangkan ibu mertua yang jauh lebih merasa kehilangan ketimbang saya.

Waktu itu setelah saya merasa lebih tenang dan melihat berita tentang bencana di Palu, saya jadi tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika ada sanak keluarga di Palu yang belum bisa dihubungi lalu melihat video tentang betapa dahsyatnya bencana yang terjadi disana. Pasti rasanya jadi shock dan tidak tenang. Ingin rasanya saya balas membantu mbak Benedicta tapi saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan saat itu. Lalu saya mengambil smartphone saya dan mencoba mencari nomor ponsel yang tadi digunakan oleh mbak Benedicta untuk menelpon saya saat mengkonfirmasi pesanan. Tercatat di history panggilan saya, ada nomor ponsel mbak Benedicta. 
Nomor ponsel mbak Benedicta yang tersimpan di history panggilan ponsel saya

Saya save nomor tersebut namun saya merasa sungkan untuk menghubungi kembali. Kemudian saya putuskan untuk  membuka aplikasi TCASH dan saya kirimkan sejumlah pulsa ke nomor ponsel seseorang yang sudah melakukan kebaikan yang berkesan bagi saya meskipun saya baru mengenalnya selama 15 menit. "Saya hanya bisa bantu kirim pulsa #BuatKamu mbak..semoga bermanfaat", batin saya. Saat itu saya hanya berupaya semoga pulsa yang saya kirimkan bisa bermanfaat untuk mencari informasi tentang keluarganya yang berada di Palu. 

Beberapa saat kemudian taxi online pesanan saya datang. Saya segera bergegas untuk kembali ke rumah mertua. Malam itu saat duduk di dalam mobil, dalam hati saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya tidak akan terlalu lama bersedih hati atas kepergian bapak. Justru saya akan membahagiakan bapak dengan cara meneruskan apa yang telah beliau contohkan kepada saya yaitu berbuat baik kepada siapapun dengan ikhlas tanpa pamrih. 

There are no good byes, wherever you are, you will always be in my heart

Selamat jalan bapak....
Jujur...saat menuliskan ini saya masih saja meneteskan air mata. Bukan karena sedih, tapi karena saya kangen bapak. Tanggal 6 November 2018 yang lalu adalah hari lahirnya bapak. Jika beliau masih hidup saat ini usianya 73 tahun. Biasanya kami menggelar acara ulang tahun bersama-sama karena hari lahir bapak sama persis dengan hari lahir suami saya dan berdekatan dengan tanggal lahir anak pertama saya yang lahir pada tanggal 11 November. Tapi tahun ini tak ada lagi acara tiup lilin sama-sama. Karena bapak sudah tidak bersama kami lagi. Meski begitu kenangan indah bersama beliau akan terus menjadi memori indah yang tak akan pernah terlupakan.
Kenangan tiup lilin sama-sama 

How lucky Iam, to have a father in law so perfect like you
Selamat jalan bapak....kepergian bapak sungguh sangat membuat saya merasa kehilangan. Namun semua jasa dan kebaikan yang telah bapak lakukan akan terus menginspirasi dan memotivasi saya untuk melakukan hal yang sama. Semoga amalan tersebut bisa menjadi pahala yang tak pernah putus buat bapak. Amin. 


You May Also Like

4 comments

Terimakasih Teman-Teman Semua Atas Komentarnya :)