Menjadi Perempuan Berdaya Yang Menguasai Self Leadership

by - March 23, 2021


Beberapa waktu lalu saya posting status di sosmed tentang prestasi yang berhasil saya raih. Saya tidak menyangka bahwa postingan itu mendapatkan banyak respon positif dari teman-teman saya. Berikut saya copy status yang saya tulis di sosmed tersebut :

Setelah berkali-kali gagal...

Saya tidak terlahir cerdas. Tapi juga tidak bodoh. Standar saja sih kemampuan otak saya. Dulu saat lulus S1, nilai saya pun standar. IPK memang di atas 3, tapi ada 1 nilai D yang sudah saya ulang berkali-kali tetep saja dapat D. Karena merasa nggak pinter makanya pas udah kerja, saya pengen bisa sekolah lagi. Ambil S2 dari program beasiswa. 

Karena nggak pinter itulah maka tiap daftar seleksi beasiswa saya gagal terus. Seingat saya sudah 4 kali saya gagal ikut seleksi beasiswa. Kemudian sempat berpikir utk menyerah. Udah ah...capek, mungkin takdirku memang nggak akan bisa sekolah S2.

Tapi entah kenapa setelah merasa ingin menyerah, di tahun 2019 semangat untuk daftar beasiswa itu muncul lagi. Saat itu usia saya sudah 36 tahun. Lagi-lagi saya hanya modal nekat saja. Saya merasa ini adalah kesempatan terakhir saya berusaha karena batas maksimal yg diatur di tempat kerja saya, jika mau sekolah S2 maksimal usia 37 tahun. Jika usia lebih dari itu nggak bakal dapat izin daftar sekolah S2.

Setelah melewati proses ijin yang berliku-liku dan akhirnya bisa ikut ujian, di seleksi pertama saya gagal lagi. Kemudian ya sudah...saya berusaha ikhlas melepas mimpi untuk bisa sekolah S2. Namun ternyata ada panggilan untuk ikut seleksi kedua yang benar-benar diluar dugaan. Dan disinilah Allah mulai membukakan jalan bagi saya untuk bisa sekolah lagi. Saya lulus seleksi gelombang 2 dengan nilai TPA dan TOEFL yang mepet banget dengan standar minimal.

Saya sempat merasa minder saat melihat daftar teman seangkatan yang diterima di prodi yang sama lewat jalur beasiswa. Ternyata nilai saya yang paling rendah dan umur saya paling tua πŸ˜… selama kuliah saya pun merasa paling bego sendiri. Sering merasa roaming karena ilmu yang saya pelajari beda jauh dengan ketugasan yang saya lakukan selama hampir 12 tahun bekerja. Apalagi saat mencari topik mau bikin tesis apa, rasanya kayak mau nangis karena saking bingungnya.

Dan hari ini saat ceremony wisuda online dan dibacakan nama saya sebagai lulus cumlaude nilai tertinggi di tingkat prodi, rasanya malah anehπŸ˜… kok bisa ya..aku yang merasa bodoh ini bisa mencapai prestasi yang nggak pernah kebayang sebelumnya. Saya yakin ini terjadi karena nasib baik. Tapi puas sih, akhirnya saya bisa membuktikan pada diri sendiri kalau saya bisa. Kegagalan yang berkali-kali saya alami sempat membuat saya nggak percaya sama kemampuan diri sendiri. Tapi hari ini saya bisa membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya mampu dan saya tidak sepayah yang saya kira. Ini bukan berarti saya menyombongkan diri, justru saya harus semakin tau diri. Bahwa di atas langit selalu masih ada langit. Bahwa semakin banyak belajar justru semakin banyak hal yang belum kita ketahui.

Well, masa kuliah itu akhirnya selesai juga. Setelah melewati banyak drama dan juga air mata karena jujur saya melewati ini tidak mudah. Banyak juga yang harus dikorbankan seperti jauh dari keluarga untuk sementara waktu. Makanya moment ini memang perlu diabadikan, supaya saya tidak lupa bahwa berkali-kali gagal itu bukan berarti saya payah. Itu hanyalah ujian dari Tuhan supaya saat saya berhasil, saya tidak lupa diri.
Sumber ilustrasi : facebook pribadi
Panjang ya statusnya..hehehe..eniwei status itu saya buat memang murni untuk mengabadikan moment yang berarti dalam hidup saya serta ingin sharing bahwa sebagai perempuan kita pasti bisa mewujudkan mimpi asalkan kita tidak mudah menyerah dengan kegagalan yang pernah kita alami. Apa yang saya tulis di dalam status tersebut, memang based on true story.

Sebagai perempuan yang sudah menikah dan memiliki 2 orang anak usia SD dan TK, memang rasanya tidak mudah untuk mewujudkan mimpi meraih pendidikan tinggi. Saya masih ingat saat saya minta izin atasan untuk sekolah lagi saya sempat ditanya. Kenapa masih ingin sekolah? Bukankan sekarang posisimu sudah menduduki jabatan eselon IV. Mau cari apa lagi? Nanti saat sekolah, jabatan akan dicopot dan tunjangan jabatan juga hilang. Yakin mau sekolah lagi?

Kala itu saya menjawab bahwa saya mantap dengan keputusan saya. Jika disuruh memilih antara jabatan dan pendidikan, maka jawaban saya sudah pasti bahwa saya akan memilih pendidikan. Meskipun saya tahu jalan yang akan saya lalui tidaklah mudah, terlebih lagi saya kuliah di luar kota dan terpaksa harus jauh dari anak dan suami. Namun saya memiliki keyakinan bahwa saya mampu menjalaninya.

Dukungan terbesar saya dapatkan dari suami serta ibu mertua saya. Selama saya diluar kota, ibu mertualah yang selalu membantu suami saya mengurus dan menjaga anak-anak karena saya tidak punya asisten rumah tangga. Tanpa bantuan beliau tentu saya tidak akan bisa tenang menjalani masa kuliah. Ibu mertua saya tidak pernah nyinyir kepada menantunya seperti yang biasa digambarkan di sinetron. Justru ibu mertua saya adalah sosok yang selalu support dan memperlakukan saya layaknya seperti anak sendiri.
Saya (jilbab hijau) bersama dosen dan teman-teman kuliah saya
Teman-teman kuliah saya yang kebanyakan perempuan juga sangat berjasa dalam prestasi yang saya raih. Sebagai sesama pejuang beasiswa kami sering diskusi untuk mengerjakan tugas bersama-sama. Kadang di waktu luang, kami juga pergi refreshing untuk makan bersama dan piknik bersama, bahkan saat saya jatuh sakit lantaran sempat terkena thypus, merekalah yang mengurus segala macam persyaratan absensi kuliah sehingga saya tetap bisa ikut ujian. What a lovely friendship.

Bagi saya menjadi perempuan itu memang harus berdaya. Meskipun secara kodrati saya ditakdirkan untuk menjadi seorang istri dan juga seorang ibu, namun saya bersyukur karena suami dan anak-anak saya tetap memberikan saya kesempatan untuk memberdayakan diri saya melalui aktivitas bekerja di kantor serta mewujudkan mimpi saya untuk meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jujur saja, menjalani peran ini sebenarnya tidak mudah. Namun karena saya memang sudah bertekad ingin menjalani kedua peran tersebut secara bersamaan yaitu menjadi ibu rumah tangga dan ibu bekerja maka sayapun harus menjalani semuanya dengan sebaik-baiknya. 

Meski tak mudah menjalani peran ini, namun kadang saya masih harus mendengar nyinyiran dari sesama kaum perempuan yang mungkin memiliki prinsip yang berbeda dengan saya. Misalnya saja saat membaca status seorang teman di sosial media yang kurang lebih bunyinya seperti ini : Jadi perempuan berpendidikan tinggi sampai S2 bahkan mungkin S3, tapi anaknya malah dititipkan pada pengasuh yang mungkin pendidikannya hanya lulusan SD atau lulusan SMA. Pulanglah bu, anakmu membutuhkanmu. Atau status lain yang intinya memojokkan ibu bekerja dan menganggap bahwa ibu rumah tangga yang full di rumah terus itu adalah ibu yang paling ideal.

Kadang emosi juga sih membaca tulisan yang kesannya seperti menyudutkan ibu bekerja semacam itu. Plis deh, setiap perempuan itu pasti punya prinsip hidup yang berbeda-beda. Tidak perlu menganggap prinsip diri sendiri itu paling benar, sementara prinsip orang lain itu salah. Makanya daripada malah bikin sakit hati, akhirnya saya memilih untuk mengabaikan saja status maupun komentar-komentar orang lain yang terkesan menyudutkan ibu bekerja semacam itu. Toh saya yang menjalani peran ini, anak dan suami saya support dengan pilihan saya dan sejauh ini kami sekeluarga baik-baik saja. Anak saya tetap tumbuh jadi anak-anak yang baik dan cerdas. Secara batin mereka juga tetap dekat dengan ibunya meskipun kami memiliki keterbatasan waktu untuk bisa selalu bersama. Suami saya juga tidak pernah merasa terabaikan dengan kesibukan yang saya jalani sebagai ibu bekerja. 

Pentingnya Perempuan Memahami Self Leadership

Beberapa waktu lalu tepatnya pada hari Senin, 8 Maret 2021 yang bertepatan dengan hari perempuan internasional saya mengikuti kegiatan FWD Community Ladies Talk yang diadakan oleh FWD Insurance dengan tema Women Empower Women. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka Rayakan Hari Perempuan Indonesia serta menjadi wadah bagi para perempuan untuk memberdayakan dan mendukung satu sama lain agar dapat "terus maju" di tengah masa-masa sulit yang disebabkan oleh pandemi seperti saat ini. Dengan adanya program ini diharapkan para perempuan berani untuk menghadapi perubahan dan tantangan sekaligus dapat merayakan hidup serta dapat mengambil kendali penuh atas hidup mereka. Bebaskan Langkah, Berani!
Sumber ilustrasi : tangkapan layar zoom (putri)
Dalam kegiatan ini FWD Insurance menghadirkan 4 pemimpin perempuan di jajaran manajemen FWD Insurance yaitu Maika Randini Chief Marketing Officer FWD Insurance, Maria Magdalena Chief Governance Officer dan Direktur Kepatuhan FWD Insurance, Indrayana Agustsaputra Chief Bancassurance Officer FWD Insurance, dan Carol Mary Quertier Chief of Operations Officer FWD Insurance. 

Nah yang paling menarik dari sesi ini adalah ketika mbak Laurencia Lina selaku salah satu narasumber menyampaikan tentang Self Leadership. Poin penting yang saya garis bawahi dari materi ini adalah sebelum kita bisa memimpin orang lain maka yang harus dilakukan pertama kali adalah kita harus bisa memimpin diri kita sendiri. Self Leadership ini merupakan seni dalam mengelola pikiran, emosi serta tindakan diri sendiri. Ada 4 hal penting dalam self leadership ini yaitu :

1. Kenali Diri

Sebagai perempuan yang konon katanya punya sisi emosional yang lebih dominan daripada laki-laki, maka kita harus bisa mengenali diri sendiri dengan cara selalu menyadari pikiran dan emosi apa yang muncul di dalam diri kita. Misalnya seperti saya yang tiba-tiba baper atau emosi ketika membaca status atau komentar di media sosial yang terkesan menyudutkan saya sebagai ibu bekerja, maka saya harus bisa langsung mengenali emosi yang muncul tersebut kemudian mengelolanya. Kenapa sih kok saya jadi merasa nggak nyaman seperti ini? oh berarti saya baper gara-gara membaca status tersebut. Kalau saya baperan, maka sebaiknya saya unfollow saja pertemanan di sosial media dengan orang-orang yang hobi nyinyirin ibu bekerja.
    
2. Kelola Diri

Saat kita sudah bisa mengenali diri sendiri, maka selanjutnya sebagai perempuan kita juga harus mampu mengelola diri dengan cara berlatih untuk mengamati respon yang kita berikan di setiap situasi. JIka respon kita terlalu spontan dan kurang terkendali, maka belajarlah untuk mengendalikan respon dengan cara diam dulu dan berpikir dulu. Jangan spontan langsung merespon. Kalau saya sih biasanya begitu merasa baper, maka reaksi saya mending diam. Saya bukan tipe perempuan yang langsung membalas komentar negatif dengan komentar tandingan. Saya lebih suka diam dan membuktikan bahwa saya tidak seperti yang mereka pikirkan.

3. Kenali Sekitar

Sebagai perempuan kita juga harus bisa bersikap terbuka dan mau untuk mendengarkan secara netral tanpa judgemental terhadap masukan maupun penilaian yang diberikan oleh orang lain kepada diri kita. Saya sendiri meskipun kadang suka baper, namun secara pribadi saya tetap siap menerima kritikan jika memang ada hal dalam diri saya yang perlu untuk diperbaiki. Saya bukan tipe orang yang anti kritik, jika ada masukan yang bersifat membangun maka saya akan menerimanya dengan senang hati.

4. Kelola Hubungan

Sebagai perempuan kita juga harus bisa untuk menghadirkan diri yang penuh kepedulian, terlebih lagi dengan sesama perempuan. Kalau dipikir-pikir, apa sih untungnya sesama perempuan saling bersaing, saling menghujat apalagi saling menjatuhkan. Bagaimana bisa menjadi pimpinan yang baik jika memimpin diri sendiri saja tidak bisa. Misalnya selalu merasa dirinya paling benar dan tidak mau menerima masukan dari orang lain sehingga orang lain yang berada di sekitarnya jadi merasa kurang nyaman bekerjasama. Bukankah akan lebih baik jika sesama perempuan itu saling peduli dan saling mendukung antara satu sama lain? Women empower women.
Sumber ilustrasi : tangkapan layar zoom (pribadi)
Ilmu tentang Self Leadership yang saya dapatkan dalam kegiatan Ladies Talk bersama FWD Insurance beberapa waktu lalu sangat bermanfaat bagi diri saya terutama untuk mengembangkan diri menjadi perempuan yang lebih baik lagi.  Seorang pemimpin yang kurang menguasai self leadership biasanya cenderung arogan dan mendapat image kurang baik di lingkungannya.

Menjadi perempuan cerdas dan berdaya apalagi punya jabatan sebagai pimpinan itu memang istimewa, namun jangan melupakan ilmu self leadership. Jangan sampai sebagai perempuan ketika merasa sudah berpendidikan tinggi dan punya karir yang bagus kemudian merasa diri diatas angin dan melupakan ilmu padi yaitu semakin berisi maka akan semakin merunduk. Untuk bisa menguasai ilmu padi ini, maka self leadership amatlah penting untuk dipahami. 

#FWDInsurance #RayakanHariPerempuanIndonesia #FWDCommunityLadiesTalk #Bebaskan Langka, berani!

You May Also Like

0 comments

Terimakasih Teman-Teman Semua Atas Komentarnya :)