Diskominfo Coworking Space, Ruang Bersama Kekinian Yang Inklusif & Aksesibel

by - September 19, 2018

Foto : Dok. Pribadi
Di era kekinian seperti sekarang, semakin banyak bermunculan para enterpreuner muda yang mengembangkan bisnisnya di bidang industri kreatif digital. Mereka adalah para freelancer, blogger, pengusaha start up, dan lain sebagainya. Kehadiran mereka ini berdampak positif pada pengembangan UKM serta munculnya mata pencaharian baru bagi masyarakat khususnya di dunia online. Sudah bukan hal mustahil lagi jika kini kita menemui anak-anak muda yang memiliki penghasilan sendiri tanpa harus menjadi PNS atau pegawai swasta. Dengan menekuni pekerjaan di dunia online, kini semakin banyak saja generasi milenial yang bisa mandiri secara ekonomi.

Bekerja di dunia online memang menjanjikan. Apalagi jika didukung dengan ketekunan serta kreativitas. Pekerjaan dibidang online juga sangat fleksibel. Bisa dikerjakan dari mana saja, tidak perlu memiliki kantor yang tetap. Yang dibutuhkan hanyalah laptop/PC dan koneksi internet yang cepat & lancar. Meski begitu, terkadang para penggiat di dunia online ini juga membutuhkan tempat untuk bisa saling bertemu dengan sesama freelancer atau dengan komunitas lainnya supaya mereka bisa berdiskusi untuk lebih meningkatkan kemampuan serta memperluas jaringan bisnis. Hal inilah yang kemudian mendorong munculnya tempat kerja jaman now bagi mereka yang dikenal dengan istilah coworking space.

Apa itu Coworking Space ?

Jika diterjemahkan dalam bahasa indonesia maka coworking space itu artinya ruang kerja bersama, yaitu tempat yang bisa digunakan oleh orang-orang dari berbagai latar belakang / organisasi untuk berbagi ruang dalam bekerja. Orang-orang ini bisa siapa saja, mulai dari individu, komunitas hingga perusahaan bisa berkumpul bersama di tempat ini. Coworking space juga termasuk ruang publik dimana sambil bekerja maka orang-orang juga bisa saling berinteraksi dan berkolaborasi dalam membangun jaringan untuk memperluas bisnisnya, terutama bagi mereka yang bergelut di bidang bisnis start up dan juga para freelancer yang bersifat perorangan.

Istilah coworking space ini mulai dikenal pada tahun 2002. Menurut sejarahnya coworking space pertama kali didirikan di Wina, Austria dan diberi nama Schraubenfabrik. Pendirinya adalah Stefan Leidner-sidl dan Michael Poll. Schraubenfabrik ini kemudian disebut sebagai Mother of coworking space. Di Indonesia sendiri, coworking space didirikan pertama kali di kota Bandung pada tahun 2010. Sesudah itu ruang bersama kekinian ini mulai bermunculan di kota-kota lain dan menjadi sebuah ruang bersama yang sangat bermanfaat bagi para founder start up hingga freelancer dalam mengembangkan bisnis serta kreativitasnya.
Ilustrasi : Kreasi Pribadi
Kehadiran coworking space memang terbukti dapat mendukung semangat dan produktivitas kerja. Beberapa studi yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa dari 70% orang yang disurvei, mereka merasa lebih sehat ketika berkerja di coworking space dibandingkan bekerja di kantor konvensional. Sementara itu 50% melaporkan bahwa mereka berhasil mendapatkan peningkatan pendapatan. Hal ini karena coworking space merupakan ruang kerja bersama yang mengusung konsep open space sehingga setiap individu didalamnya dapat lebih aktif untuk saling berinteraksi.

Yogyakarta sebagai gudangnya anak-anak muda yang kreatif juga memiliki beberapa coworking space, salah satunya adalah Diskominfo Coworking Space atau disingkat DCS. Yang istimewa dari coworking space ini adalah ruang kerja bersama kekinian ini mengusung konsep inklusif dan aksesibel. 

Diskominfo Coworking Space, Ruang Bersama Kekinian Yang Inklusif & Aksesibel

DCS merupakan coworking space yang didirikan oleh Dinas Kominfo DIY. Ruang kreatif ini disediakan oleh pemerintah provinsi DIY untuk mendukung perkembangan ekosistem digital di Yogyakarta serta sebagai sarana berinteraksi sosial bagi para pelaku bisnis kreatif serta freelancer dalam berkarya di dunia digital.

Coworking space yang mengusung konsep inklusif dan aksesibel ini memang sengaja didesain ramah difabel. Disediakan jalur masuk untuk akses kursi roda serta pintu yang didesain cukup lebar sehingga kaum difabel merasa nyaman saat hendak berkunjung ke tempat ini. Mejanya juga didesain ramah difabel, sehingga siapapun bisa memanfaatkan ruang ini untuk berkarya dan mengembangkan kreativitasnya di bidang online.
Disediakan jalur khusus untuk akses masuk difabel. Foto : Dok. Pribadi
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini memang sangat mungkin untuk dimanfaatkan oleh difabel dalam menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Menurut data nasional dari Kementrian Tenaga Kerja, pada tahun 2017 masih ada warga penyandang disabilitas yang menganggur yaitu sebanyak 4 % dari total 11 juta jiwa. Berdasarkan data tersebut dijelaskan bahwa jumlah total penyandang disabilitas di Indonesia sekitar 21 juta jiwa. Dari jumlah tersebut usia angkatan kerjanya sebanyak 11 juta jiwa dan 96,31 % diantaranya telah bekerja di berbagai sektor pekerjaan. Sektor informal merupakan sektor yang paling diminati oleh para difabel.
Ilustrasi : Kreasi Pribadi
Keterbatasan fisik seseorang memang bukan menjadi penghalang untuk dapat berkarya dan mandiri. Dari data diatas, sebenarnya perkembangan dunia online saat ini bisa dimanfaatkan sebagai peluang oleh para penyandang disabilitas untuk meraih sukses di dunia kerja sektor informal. Tidak ada yang tidak mungkin bagi kaum difabel untuk terus berkarya. Faktanya, ada juga difabel yang sukses berkarya di dunia online dan berhasil menginspirasi banyak orang. Contohnya seperti Laninka, seorang difabel yang sukses menjadi YouTuber make up atau Habibie Afsyah seorang difabel yang sukses di bidang internet marketing. Keberhasilan mereka berkarya di dunia online berhasil mengantarkan mereka untuk bisa mandiri secara finansial di usia muda meskipun memiliki keterbatasan secara fisik. 
Sumber gambar : maxmanroe.com
Sedikit cerita tentang sosok Habibie yang menderita penyakit muscular dythtropi sehingga menyebabkan motorik tubuhnya tidak berfungsi. Dari hasil belajar internet marketing dan praktek real di dunia maya, ia sudah berhasil menerbitkan ebook panduan sukses dari Amazon dan membuat situs jual beli properti yaitu rumah101.com. Bahkan banyak juga acara seminar dan talkshow kampus yang sering mengundang Habibie Afsyah sebagai narasumber. Ia juga berhasil menulis buku berjudul “Kelemahanku adalah Kekuatanku untuk Sukses” yang telah menginspirasi banyak orang. Semua pencapaiannya tersebut tak lepas dari dukungan sang ibu yang memotivasi untuk memanfaatkan dunia online secara kreatif, tidak hanya sebatas untuk browsing dan bermain game saja.

Kaum difabel memang memiliki keterbatasan, sehingga fasilitas umum yang tersedia juga sudah selayaknya jika didesain dengan selalu memperhatikan kebutuhan mereka. Hal inilah yang kini telah diwujudkan oleh Dinas Kominfo Provinsi DIY dalam rangka mendukung kemudahan kaum difabel dalam mengakses fasilitas publik. Selain menyediakan jalur akses masuk bagi difabel, kini kamar mandi yang tersedia di kantor ini juga sudah didesain lebih ramah difabel.
Meja yang disediakan juga ramah difabel. Foto : Dok. Pribadi
Keberadaan Diskominfo Coworking space yang baru saja diresmikan pada bulan Agustus 2018 oleh Kepala Diskominfo, Ir. Rony Primanto Hari, MT ini sudah selayaknya jika dapat dimanfaatkan secara kreatif juga oleh masyarakat. Karena perkembangan internet saat ini sangat memungkinkan bagi siapapun untuk dapat meraih kesuksesan. Trend yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa pertumbuhan e-commerce di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia. Data sensus ekonomi dari BPS pada tahun 2016 menyebutkan bahwa industri e-commerce di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir telah tumbuh sekitar 17% dengan total jumlah usaha mencapai 26,2 juta unit. Bahkan menurut riset global dari Bloomberg diramalkan bahwa pada tahun 2020 nanti lebih dari separuh penduduk Indonesia akan terlibat dalam aktivitas e-Commerce.

Trend positif terhadap industri UKM di dunia online ini tentunya diharapkan bisa semakin memperluas lapangan kerja baru, termasuk bagi kaum difabel. Karena kaum difabel juga memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam mendapatkan akses pekerjaan. Sehingga kehadiran DCS yang mengusung konsep inklusif dan aksesibel ini bisa dimanfaatkan oleh para difabel dalam mengembangkan bisnis on line yang sesuai dengan minat masing-masing. Diskominfo coworking space yang didirikan oleh pemprov DIY ini memiliki beberapa fasilitas yaitu :
  • Indoor space, didalamnya terdapat 7 unit peralatan komputer yang dapat digunakan untuk berkreasi
  • Outdoor space, merupakan area yang dapat digunakan untuk online sambil berdiskusi dengan komunitas
  • Performance space, dilengkapi dengan mini panggung yang dapat digunakan untuk komunitas yang ingin menampilkan karyanya
  • Ruang studio kecil, dapat digunakan untuk membuat animasi dan film pendek
  • Ruang kelas, dapat digunakan untuk kegiatan workshop dengan kapasitas 20 orang
Semua fasilitas yang tersedia dapat diakses oleh siapa saja termasuk kaum difabel. Upaya yang dilakukan oleh Diskominfo DIY ini juga dalam rangka mewujudkan Jogja Smart Province, yang kedepannya nanti diharapkan masyarakat jogja bisa lebih smart dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk mengembangkan industri kreatif digital.

Pengalaman Berkunjung Ke Diskominfo Coworking Space (DCS)

Saya sendiri adalah seorang blogger. Meskipun blogger bukan merupakan pekerjaan utama saya, namun dari aktivitas ini saya sudah berhasil mendapatkan manfaat tambahan penghasilan yang cukup lumayan. Tidak hanya keuntungan materi saja yang saya dapatkan, namun saya juga mendapatkan tambahan ilmu serta teman-teman baru. Beberapa waktu yang lalu saya mencoba berkunjung ke DCS, untuk menyelesaikan beberapa artikel blog yang harus segera dipublish. Lokasi DCS ternyata cukup mudah ditemukan yaitu satu komplek dengan kantor Dinas Kominfo DIY yang terletak di sebelah selatan komplek THR. Berikut alamat lengkap dan jam operasional Diskominfo Coworking Space :

Diskominfo Coworking Space
Jalan Brigjen Katamso, Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta

Jam Operasional DCS :
Senin - Jumat : 08.30 s.d 16.00
Jumat : 08.30 s.d 14.30

Yang saya suka dari DCS ini adalah jika akan berkunjung kita tidak perlu melakukan pendaftaran sebelumnya. Karena memang ada coworking space lain yang menerapkan aturan untuk mendaftar dulu secara online sebelum berkunjung. Nah, kalau di DCS ini tidak ada aturan semacam itu. Siapapun bisa langsung datang berkunjung dengan waktu sesuai jam operasional DCS. Setiba disana kita hanya perlu melepas alas kaki serta mengisi buku tamu saja. Setelah itu kita bisa langsung beraktivitas online dengan menggunakan PC yang disediakan atau dengan laptop yang dibawa sendiri. Akses internetnya cepat dan lancar, tempatnya juga sangat nyaman (full musik dan full AC).
Suasana di dalam coworking space. Foto : Dok. Pribadi
Saya betah lho, menghabiskan waktu berlama-lama sambil online di DCS. Selain tempatnya yang nyaman, petugasnya juga ramah. Coworking space ini gratis disediakan untuk masyarakat umum. Ini juga salah satu keistimewaan dari DCS, karena sepengetahuan saya ada coworking space lain yang menerapkan aturan harus membayar sewa dengan tarif tertentu bagi penggunanya. Namun, meskipun DCS ini merupakan coworking space yang gratis dan bebas digunakan oleh siapapun, sebagai pengunjung kita tetap harus memanfaatkannya dengan bijak dan menjaga fasilitas yang ada agar tetap berfungsi dengan baik. Menjaga kebersihan lingkungan dan kenyamanan sesama pengunjung harus dijadikan prinsip utama bagi siapapun yang berkunjung ke DCS. Sayang sekali jika tempat senyaman dan sebagus ini tidak kita jaga dan manfaatkan bersama. 
Ilustrasi : Kreasi Pribadi
Jika ingin beraktivitas online secara lebih rileks dan santai, kita bisa memanfaatkan outdoor space yang disediakan. Areanya cukup luas sehingga kita juga bisa mengajak teman-teman komunitas untuk saling bertemu dan berdiskusi di tempat ini. Sepertinya tempat ini juga bisa jadi solusi untuk teman-teman komunitas saya yang terkadang bingung mencari tempat untuk berkumpul bersama.
Kumpul - kumpul arisan ilmu bareng Komunitas Emak Blogger. Foto : Dok. Pribadi
Kebetulan saya tergabung dalam komunitas emak blogger yang beberapakali melakukan kegiatan arisan ilmu. Ini merupakan acara kumpul-kumpul sambil sharing ilmu tentang dunia online. Jadi bukan uang yang digunakan sebagai sarana untuk arisan, melainkan ilmu. Yang menjadi narasumber biasanya bergantian antar anggota komunitas, namun bisa juga mengundang narasumber dari luar. Selama ini lokasi arisan bergilir dari rumah ke rumah para anggota komunitas dan konsumsinya dengan cara potluck supaya tidak membebani tuan rumah. Gara - gara berkunjung ke DCS, saya jadi terbersit ide. Sepertinya seru juga jika sesekali komunitas kami menggelar arisan ilmu di tempat ini.
Area outdoor space. Foto : Dok. Pribadi
Saya yakin bahwa kehadiran DCS ini akan sangat bermanfaat bagi masyarakat, termasuk bagi kaum difabel. Saya juga berharap ke depannya nanti DCS mengadakan kegiatan-kegiatan yang mendukung para freelancer dalam meningkatkan kemampuannya di bidang online. Misalnya mengadakan kelas blogging, workshop SEO, pelatihan membuat video kreatif, desain grafis dan lain sebagainya yang bisa diikuti oleh semua kalangan secara gratis. Dengan begitu akan semakin banyak masyarakat yang mampu mengembangkan dirinya dalam industri kreatif di dunia online.

Perkembangan dunia digital yang semakin maju ini jika tidak dimanfaatkan secara smart dan kreatif rasanya memang sungguh sayang sekali. Tidak ada istilah "saya tidak bisa karena gaptek". Karena sesungguhnya gaptek itu hanya berlaku untuk orang yang malas belajar dan mencoba. Jika Habibie yang menyandang difabel saja bisa sukses berkarya di dunia online, tentunya kita semua juga bisakan? Apabila yang menjadi kendala adalah tidak adanya sarana untuk berkarya, maka kehadiran Diskominfo Coworking Space bisa menjadi jawaban atas kendala tersebut. Fasilitas yang memadai serta didukung dengan konsep yang inklusif dan aksesibel, tentunya bisa menjadi solusi bagi siapapun yang ingin lebih mengembangkan kemampuannya dalam berkarya dan berkreasi dengan memanfaatkan kemajuan di bidang teknologi informasi.

"Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi pagelaran TIK yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY"

Referensi :
  1. http://diskominfo.jogjaprov.go.id/berita/baca/diskominfo-diy-resmikan-co-working-space-ramah-difabel
  2. https://evhive.co/blogs/mengenal-lebih-dalam-apa-itu-coworking-space-ev-hive
  3. https://tirto.id/coworking-space-bukan-sekadar-tempat-kerja-cScY
  4. https://www.maxmanroe.com/habibie-afsyah.html
  5. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3591422/berapa-jumlah-penyandang-disabilitas-nganggur-ini-kata-menaker

You May Also Like

1 comments

Terimakasih Teman-Teman Semua Atas Komentarnya :)