Mari Merayakan Kegagalan, Akhir dari Perjuangan Mencari Beasiswa S3
Well, sudah lama banget aku nggak nulis curhat di blog ini. Tapi hari ini aku mau menulis lagi dalam rangka merayakan kegagalanku berjuang mencari beasiswa S3. Sebenarnya aku nggak pernah kebayang untuk daftar sekolah lagi. Apalagi di tahun 2020 setelah aku wisuda S2, aku pernah mendeklarasikan bahwa aku sudah kapok sekolah. Aku nggak punya niat untuk melanjutkan studi S3, karena bagiku pendidikan S2 yang berhasil kuselesaikan dengan predikat cumlaude itu sudah cukup. Waktu itu aku juga cukup tau diri bahwa di usia yang sudah tidak muda lagi ternyata perjuangan menyelesaikan S2 pada saat itu benar-benar menguras energi dan air mata. Belum lagi perjuangan mencari izin untuk tugas belajar di BKPSDM..ruwet deh prosedurnya saat itu.
Tapi tiba-tiba di awal tahun 2026, terbersit ide untuk mencoba melanjutkan pendidikan S3. Latar belakangnya karena ada kesempatan seleksi yang dibuka oleh BKPSDM untuk semua ASN yang berminat untuk mendaftar tugas belajar. Awalnya aku mencoba hanya karena iseng dan penasaran aja. Ini seleksinya gimana sih, apakah masih seruwet dulu atau sudah ada peningkatan? Saat aku akan mendaftar, ada beberapa temanku yang bertanya, "Mau cari apa sih kamu sekolah S3?".
Pada jabatanku yang sekarang sebenarnya banyak juga orang yang bertanya, kamu mau cari apa lagi? Termasuk suamiku sendiri sempat mempertanyakan hal itu. Saat ini aku sudah menduduki jabatan fungsional ahli madya golongan IV b. Secara gaji pokok dan tunjangan, alhamdulilah take homepay yang kuperoleh sudah sangat mencukupi. Sementara jika aku jadi sekolah S3 dengan jalur beasiswa, maka konsekuensinya adalah aku akan menjalani full study dan meninggalkan tugas/pekerjaan selama kurang lebih 3 tahun. Kemudian aku harus melepaskan jabatan fungsionalku, termasuk kehilangan tunjangan yang sudah cukup lumayan itu. Kalau dihitung-hitung secara ekonomi memang lebih banyak ruginya. Tapi bagiku kesempatan menuntut ilmu lebih berharga dari sekedar uang, sehingga aku tetep ngotot untuk memulai perjuangan melanjutkan S3.
Dan perjuanganpun dimulai. Di seleksi awal tingkat kabupaten, setelah melalui seleksi administrasi dan ujian tulis, aku dinyatakan eligible oleh BKPSDM untuk mendapatkan rekomendasi lanjut S3 jurusan Ilmu Administrasi Publik. Karena jurusan inilah yang menjadi kebutuhan organisasi di tempatku bekerja. Tapi segala biaya tidak ditanggung oleh APBD. Pilihannya hanya ada 2 yaitu biaya sendiri atau biaya Non APBD. Biaya Non APBD itu artinya aku harus mencari sponsor pendanaan dari luar instansi. Yang terpikir saat itu adalah aku akan mencoba mendaftar beasiswa LPDP.
![]() |
| Lolos seleksi tubel di tingkat Kabupaten |
![]() |
| Calon mahasiswa UGM |
Tapi aku belum dapat beasiswanya.........
Peraturan yang berlaku di BKPSDM, kalau dari awal aku sudah memilih jalur beasiswa maka aku nggak bisa pindah jadi jalur biaya mandiri. Meskipun sudah diterima di UGM, aku tetap harus mengupayakan ada sponsor untuk membiayai kuliahku. Kalau aku pindah jadi jalur mandiri maka izin tugas belajar nggak akan dikeluarkan oleh BKPSDM. Maka langkah selanjutnya adalah mendaftar beasiswa LPDP dengan menggunakan LoA yang sudah kumiliki.
Tapi ternyata aku kurang cermat membaca syarat usia beasiswa LPDP. Bagi PNS fungsional memang ada syarat usia hingga 47 tahun untuk jenjang S3, tapiiii...ternyata fungsionalnya itu hanya dikhususkan buat fungsional peneliti, perekayasa dan pendidik saja. Sementara aku bukan termasuk dalam PNS jabatan fungsional tersebut. Sehingga aku dikategorikan sebagai PNS jalur umum yang mana batas usianya hanya sampai 42 tahun. Padahal usiaku saat ini sudah 43 tahun. Tapi aku tetap nekat daftar gaes dan hasilnya sudah bisa ditebak...aku nggak lulus administrasi karena melebihi persyaratan batas usia.
![]() |
| Tidak lolos administrasi LPDP |
![]() |
| Ini surat rekomendasi macam apa? |
Hellow..bapak dan ibu asesor yang terhormat, ini tuh buat daftar beasiswa unggulan. Kalau aku berhasil dapat beasiswa, maka yang diuntungkan ya...BKPSDM juga. Karena pegawainya bisa lanjut S3 tanpa harus dibiayai APBD. Tapi kok bikin surat rekomendasi seperti ini dengan alasan bahwa ini based on data hasil tes kompetensi dan potensi. Kemudian aku penasaran dong, pengen tau sebenarnya nilai hasil tes kompetensiku seburuk ini kah kenyataannya? Dan setelah aku cari di aplikasi asn digital ternyata nilaiku tidak seburuk itu. Ini data nilaiku di level 4 :
![]() |
| Nilai asliku nggak seburuk intepretasi mereka |
Aku sudah mencoba bicara baik-baik untuk menanyakan perihal rekomendasi yang ajaib itu. Minimal aku hanya minta diberi nilai baik. Kalau based on data harusnya bisa dong kasih interpretasi baik untuk komponen yang aku dapat nilai 3.75 karena sepemahamanku di level 4 itu nilai 4 adalah nilai maksimal. Apalagi JPMku di angka 83.33. Berdasarkan Peraturan BKN Nomor 26 tahun 2019 tentang Pembinaan Penyelenggaraan Penilaian Kompetensi PNS memang tidak ada standar untuk memberikan interpretasi kurang, cukup, baik atau sangat baik untuk masing-masing komponen. Yang ada adalah standar interpretasi nilai JPM sebagai berikut :Setelah aku tunjukin aturan ini, mereka beralasan bahwa nilai JPM ku belum mencapai 90% sehingga aku diberi nilai cukup dan kurang untuk beberapa komponen tersebut di atas. Padahal keputusan mereka untuk menginterpretasikan nilai per komponen dengan predikat cukup dan kurang juga nggak ada dasarnya yang kuat. Tapi karena aku juga udah capek debat sama mereka ya sudahlah. Saat itu waktu submit persyaratan juga sudah mepet banget karena cuma dibuka selama 5 hari dan itupun nabrak weekend. Emang nggak niat ngasih beasiswa juga kayaknya si penyelenggara beasiswa ini. Sehingga ku submit juga surat rekomendasi yang ajaib itu untuk daftar beasiswa unggulan. Dan hasilnya..lagi-lagi aku nggak lolos seleksi administrasi.
![]() |
| Gagal maning gaes |
Maka hari ini ketika aku sudah mendapat kepastian bahwa aku tidak lolos seleksi administrasi beasiswa unggulan, aku percaya bahwa ini adalah jawaban dari Allah atas doa yang kupanjatkan selama ini. Mungkin aku sedikit kecewa, tapi kalau diambil sisi baiknya aku nggak jadi rugi secara finansial. Aku nggak harus kehilangan jabatan fungsional serta tunjanganku karena menjalani full tugas belajar. Aku tetap bisa melanjutkan karierku sampai pangkat maksimal IV/c jika tetap bertahan di jabatan Ahli Madya atau jika beruntung aku bisa lanjut ke jenjang Ahli Utama yang tidak mewajibkan untuk punya ijazah S3. Cukup jalani saja semua dengan penuh rasa syukur, aku sudah diberikan kemudahan secara karier maka tidak perlu mempersulit diri sendiri dengan memaksakan untuk kuliah S3.
Akhirnya aku memilih untuk merayakan kegagalan ini dengan penuh rasa syukur. Mungkin idealismeku untuk lebih mementingkan pendidikan daripada uang sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini. Apa yang kuanggap baik, belum tentu baik menurut Allah. Kebermanfaatanku tidak harus kuwujudkan dengan meraih gelar doktor. Aku masih bisa bermanfaat untuk orang lain dengan tetap bekerja menjalani karierku saat ini secara profesional dan teguh menjaga integritas.
Jabatan yang kudapatkan saat ini juga tidak pernah kukejar sebelumnya. Jika melihat ke belakang, banyak orang bilang aku beruntung. Dulu saat aku menjabat sebagai kasubbag, aku memilih jalan untuk lanjut studi S2 dengan beasiswa bappenas dan melepaskan jabatanku. Selesai kuliah, aku mengawali karierku dari nol lagi yaitu dari jabatan pelaksana. Siapa sangka aku bisa mendapat kesempatan untuk mengikuti uji komepetensi jabatan fungsional jenjang ahli Madya dan dinyatakan lulus oleh LKPP. Hingga akhirnya disinilah aku berada. Aku menganggapnya ini sebagai jalan Tuhan. Dia yang memilihku untuk menjalani takdir serta amanah ini, supaya aku bisa berkontribusi untuk negri yang aku cintai dengan memperjuangkan pengadaan barang dan jasa yang lebih baik dan menjunjung tinggi integritas, meskipun banyak tantangannya.
Dari perjuangan mencari beasiswa S3 ini aku belajar untuk kembali merasa percaya diri setelah apa yang kualami di sepanjang tahun 2025 yang lalu. Meskipun gagal di tahap mencari beasiswa, aku sudah membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bisa diterima di S3 Ilmu Administrasi Publik UGM, walaupun aku nggak akan pernah menjalani kuliah disana karena terhambat masalah pendanaan beasiswa. Aku juga belajar bahwa aku tidak harus selalu lari dari situasi yang tidak nyaman. Dimanapun aku bekerja, aku harus mampu beradaptasi tanpa harus mengorbankan nilai-nilai yang kuyakini. Mungkin melanjutkan S3 bukanlah takdir terbaikku untuk 3 tahun ke depan, tapi aku percaya bahwa Allah punya rencana yang lebih baik bagiku di depan sana.








0 comments
Terimakasih Teman-Teman Semua Atas Komentarnya :)