Family Reading Time, Wujud Nyata Peran Keluarga Dalam Membudayakan Literasi

by - September 30, 2019


Budaya literasi akan menentukan masa depan suatu bangsa
Beberapa tahun yang lalu tepatnya saat anak pertama saya baru mulai masuk sekolah dasar, suatu siang ada guru sekolahnya yang tiba-tiba menghubungi saya. Sang ibu guru mengatakan bahwa mereka sedang menyiapkan hadiah kejutan untuk anak saya karena anak saya terpilih sebagai best reader of the month di perpustakaan sekolahnya. Penghargaan best reader of the month dipilih setiap bulan berdasarkan keaktifan anak berkunjung dan membaca buku di perpustakaan sekolah. Kegiatan ini dilakukan oleh sekolah untuk memotivasi anak-anak agar gemar membaca. Karena anak saya terpilih sebagai best reader of the month maka saya diminta untuk memberikan foto anak saya yang akan dicetak pada hadiah yang sudah disiapkan oleh sekolah. Tapi ibu guru berpesan agar saya merahasiakan informasi ini terlebih dahulu. Karena pengumuman dan hadiahnya akan diserahkan kepada anak saya pada saat upacara hari senin. 
Anak saya terpilih sebagai best reader of the month untuk bulan Oktober. Dapat hadiah mug bergambar fotonya
Saya agak terkejut mendengar informasi tersebut. Terkejut sekaligus senang. Saya tidak menyangka kalau ternyata anak saya merupakan pengunjung perpustakaan sekolah yang paling rajin di kalangan anak kelas 1 SD. Menurut info dari ibu guru yang bertugas di perpustakaan, hampir setiap hari saat istirahat sekolah anak saya pasti "mangkal" di perpustakaan sekolah untuk membaca berbagai macam buku yang tersedia disana. Bahkan katanya anak saya pernah mengeluh karena sebagian besar buku yang ada di perpustakaan sudah dibaca dan dia mulai bosan karena belum ada buku baru yang menarik. 

Anak pertama saya yang bernama Tayo memang suka sekali membaca buku. Hal ini karena sejak ia masih bayi saya sudah membuatnya akrab dengan berbagai macam buku. Yaitu dengan cara mengenalkan cloth book, sound book serta berbagai buku bergambar menarik lainnya sejak Tayo masih usia dini. Makanya tidak heran saat Tayo berusia 4 tahun ia sudah bisa membaca. Hal ini karena saya dan suami terbiasa untuk membacakan buku cerita secara bergantian untuk Tayo setiap malam menjelang tidur. Itulah yang menyebabkan Tayo bisa membaca dengan sendirinya.
Sejak kecil, Tayo memang sudah akrab dengan buku
Kami biasa menyebut kebiasaan membaca bersama ini dengan istilah Family Reading Time. Menjelang jam 7 hingga jam 8 malam kami selalu meluangkan waktu untuk membaca buku bersama. Buku yang biasa kami bacakan adalah buku - buku cerita dongeng untuk anak. Makanya setelah Tayo besar, ia jadi suka membaca buku. 
Beberapa koleksi buku cerita dongeng favorit anak-anak
Begitu juga dengan sang adik yang bernama Tifa yang kini berusia 3 tahun. Ia juga punya kegemaran yang sama seperti sang kakak yaitu suka membaca buku. Meskipun Tifa masih belum bisa membaca, namun setiap kali melihat buku yang bergambar menarik Tifa selalu minta untuk dibacakan buku dan ia akan menyimak dengan penuh konsentrasi.

Family Reading Time, Wujud Nyata Peran Keluarga Dalam Membudayakan Literasi

Familiy reading time adalah kebiasaan rutin yang sudah berlangsung cukup lama di dalam keluarga kami. Kami hanya meluangkan waktu maksimal 1 jam setiap hari untuk membaca buku bersama. Kegiatan ini tidak melulu dilakukan di rumah. Terkadang saya dan suami juga mengajak anak-anak pergi ke toko buku atau ke perpustakaan kota pada hari libur untuk membaca buku bersama. Hal ini kami lakukan supaya anak-anak tidak bosan. Bersyukurnya kegiatan ini juga bisa bersinergi dengan aktifitas membaca buku yang sering digiatkan di sekolahnya Tayo. Misalnya saat ada tugas reading challenge selama 1 bulan dari sekolah yaitu dimana anak-anak mendapat tugas untuk membaca 1 judul buku setiap hari, kemudian mereka diminta untuk menuliskan judul bacaan, tokoh utama dalam bacaan dan garis besar dari topik bacaan tersebut. Kegiatan familiy reading time di rumah jadi terasa semakin seru saat dipadukan dengan tugas reading challenge yang diberikan oleh sekolahnya Tayo.
Membaca buku di perpustakaan kota untuk sarana refreshing keluarga
Kegiatan family reading time yang sudah berjalan rutin di keluarga kami memang terbukti bisa meningkatkan serta mengembangkan kemampuan literasi anak-anak. Literasi diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam membaca dan menulis termasuk ketrampilan dalam memahami dan mengolah informasi yang diterima dari aktifitas tersebut. Membaca bukan sekedar untuk mengerti arti kata, arti kalimat serta jalan cerita dari sebuah kisah. Membaca yang benar bukan sekedar untuk tahu atau mengerti. Namun membaca adalah kegiatan mengolah rasa, mengasah kepekaan, serta membangkitkan kesadaran.
Mereka hobi sekali "mengacak-acak" buku dan membaca isinya
Budaya literasi yang baik akan sangat mempengaruhi kemampuan nalar seseorang. Hal ini karena informasi yang dimiliki jadi lebih banyak. Wawasan menjadi luas karena terbiasa membaca. Akhirnya daya imajinasi serta kemampuan nalar semakin berkembang. Kondisi semacam inilah yang berpotensi meningkatkan kecerdasan serta kemajuan berpikir bagi anak-anak di masa mendatang.
Belanja buku jadi agenda rutin kami setiap bulan
Berbicara tentang daya imajinasi dan nalar ini saya jadi ingat dengan sebuah kejadian menarik. Suatu ketika saya sedang belajar tes TPA untuk persiapan mengikuti seleksi beasiswa program magister. Saat sedang mengerjakan soal tes kemampuan verbal, tiba-tiba anak saya nimbrung ikut membaca soal. Ada soal pilihan ganda tentang istilah astronomi dimana saya kurang paham dengan jawabannya. Ajaibnya anak saya Tayo yang saat itu sudah kelas 4 SD bisa menjawab soal tersebut dengan mudah dan jawabannya benar. Hal ini saya ketahui setelah saya cocokkan jawaban Tayo dengan kunci jawaban yang ada pada buku tes TPA. Karena penasaran maka saya tanyakan kepada Tayo darimana dia bisa tahu jawabannya. Lalu dengan santai Tayo menjawab bahwa ia pernah membaca istilah-istilah astronomi tersebut dari buku-buku yang ada perpustakaan sekolahnya. Tayo memang sangat suka membaca buku bacaan dengan topik astronomi dan cerita sejarah dunia. Meskipun sejak kecil saya tidak pernah mengarahkan minatnya pada kedua topik tersebut namun minat anak saya berkembang dengan sendirinya seiring dengan pertambahan usianya.

Pentingnya Menanamkan Budaya Literasi Sejak Dini

Budaya literasi sangat penting untuk ditanamkan sejak dini oleh para orang tua kepada anak - anaknya. Kenapa penting ? Karena saat ini budaya literasi sudah semakin tergerus oleh era digital. Anak - anak jaman sekarang kebanyakan lebih akrab dengan gadget ketimbang buku. Lebih suka bermain game atau menonton you tube ketimbang membaca buku. Menurut data, minat baca masyarakat Indonesia saat ini juga sangat memprihatinkan.

Penelitian yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2012 menunjukkan, Indonesia menduduki peringkat 60 dari total 65 peserta negara untuk kategori membaca. Hasil ukur membaca ini mencakup memahami, menggunakan, dan merefleksikan dalam bentuk tulisan. Data lain yang dirilis oleh Central Connecticut State University (CCSU) tentang World's Most Literate Nation pada tahun 2016, menempatkan Indonesia pada posisi 60 dari 61 negara yang disurvei untuk tingkat literasi warganya, hanya unggul satu peringkat dari negara Afrika, Botswana.


Rendahnya literasi membaca Indonesia ini bisa dikaitkan dengan angka buta huruf di Indonesia yang masih tinggi. Pada era teknologi dan informasi yang masif seperti sekarang, ternyata masih ada jutaan penduduk Indonesia yang buta huruf. Berdasarkan data Pusat Data dan Statistik Kemendikbud tahun 2015, angka buta huruf di Indonesia masih tinggi yang jumlahnya mencapai 5.984.075 orang. Ini tersebar di enam provinsi meliputi Jawa Timur 1.258.184 orang, Jawa Tengah 943.683 orang, Jawa Barat 604.683 orang, Papua 584.441 orang, Sulawesi Selatan 375.221 orang, Nusa Tenggara Barat 315.258 orang. Selanjutnya pada tahun 2018, menurut laporan pendidikan Badan Pusat Statistik, tingkat melek huruf untuk usia 15 tahun ke atas Indonesia naik 0,16 persen menjadi 95,66 persen. Namun, meski angka melek huruf Indonesia sudah cukup tinggi tapi hal itu tidak menunjukkan efek terhadap tingkat minat membaca.
Diperlukan sinergi antara pembiasaan di rumah dan di sekolah untuk membudayakan literasi pada anak
Untuk mengatasi masalah rendahnya minat baca masyarakat Indonesia maka pemerintah melalui kemendikbud telah melakukan berbagai upaya salah satunya dengan pembentukan kampung literasi. Sebagai bagian dari masyarakat, saya juga telah melakukan wujud nyata untuk membudayakan literasi pada keluarga saya yaitu dengan kegiatan family reading time. Kebiasaan membaca memang harus diawali dengan orang tua memberi contoh kepada anaknya atau secara bersama-sama mengajak anak membaca buku bersama sejak usia dini. Kedua orang tua harus sama-sama kompak untuk menjauhkan gadget serta mematikan televisi selama kegiatan family reading time sedang berlangsung. Meskipun saat ini juga sudah banyak bahan bacaan yang bisa diakses melalui gadget misalnya e-book, namun saya lebih sering menggunakan buku-buku bacaan yang sifatnya konvensional. 
Family Reading time with my kiddos
Kebiasaan membaca bersama anak dan orang tua juga dapat semakin mengakrabkan hubungan serta meningkatkan bonding antara anak dan orang tua. Bagi keluarga yang jarang bisa berkumpul bersama misalnya karena kesibukan orang tua bekerja, maka family reading time bisa jadi sarana yang tepat untuk menikmati quality time. Membaca buku bisa meningkatkan daya ingat orang tua supaya tidak gampang jadi pelupa. Sementara bagi anak-anak kegiatan membaca juga bermanfaat untuk menstimulasi kecerdasan mereka.

The more that you read, the more things you will know

Dengan banyak membaca maka seseorang juga akan jadi lebih mudah dalam menulis. Ibaratnya nutrisi, maka bahan bacaan akan memberikan nutrisi bagi otak sehingga seseorang dapat menulis dengan baik. Saat ini saya juga sudah mulai mengajarkan anak saya Tayo untuk berlatih menulis yaitu dengan cara menulis buku harian. Dengan sarana buku harian anak saya belajar untuk menuliskan pengalaman sehari-hari yang dialami di sekolah. Termasuk menuliskan tentang buku apa yang dibacanya hari ini di perpustakaan sekolah. Saya memintanya untuk menuliskannya secara singkat saja supaya anak saya tidak bosan. Dengan begitu sekaligus saya juga bisa memantau kejadian apa saja yang dialami Tayo selama di sekolah. Saya berharap langkah sederhana ini kelak dapat mengembangkan kemampuan menulis anak saya menjadi lebih baik lagi.
Banyak membaca, otomatis akan meningkatkan kemampuan menulis
Membaca dapat membebaskan seseorang dari ketidaktahuan serta membentuk karakter. Orang yang gemar membaca maka cara berpikirnya akan lebih terstruktur. Mereka juga memiliki kepekaan dan kesadaran yang lebih tinggi. Terutama kesadaran terhadap kekuatan dan kelemahannya diri sendiri serta kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya. Orang yang memiliki daya literasi yang baik juga tidak akan mudah menyebar hoax ke berbagai media sosial, serta tidak akan membuang waktu berdebat untuk hal yang tidak jelas dasarnya. Apalagi literasi kini semakin berkembang, meliputi literasi digital, finansial, kebudayaan dan lain sebagainya. Maka dari itu peran keluarga sangat penting dalam membentuk budaya literasi untuk memperkuat generasi di masa depan, tak hanya sekedar bisa membaca, menulis dan berhitung namun juga memanfaatkan kemampuan literasinya untuk menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Bangsa yang membaca akan memiliki karakter dan peradaban tinggi. Jika masyarakat suatu bangsa tidak membaca maka lambat laun ia akan tersingkir dari peradaban. Saya tidak ingin Indonesia bernasib seperti itu. Familiy reading time merupakan langkah sederhana saya untuk menanamkan budaya literasi pada anak-anak saya. Karena pendidikan dasar diawali dari keluarga dan merupakan tanggung jawab orang tua.

#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga

Sumber Referensi : 

https://tirto.id/literasi-indonesia-yang-belum-merdeka-bBJS
https://news.detik.com/berita/d-4371993/benarkah-minat-baca-orang-indonesia-serendah-ini

You May Also Like

0 comments

Terimakasih Teman-Teman Semua Atas Komentarnya :)