Antara Ketidakpastian Dan Sebuah Perlindungan

by - August 26, 2018


Hidup telah mengajarkan kepada saya tentang begitu banyaknya ketidakpastian. Kita tidak pernah bisa menebak dengan pasti tentang apa yang akan terjadi esok hari. Begitu juga dengan saya yang tak pernah menyangka bahwa takdir kehidupan akhirnya membawa saya untuk menjalani kehidupan seperti sekarang.

Jalan hidup saya berubah ketika suatu siang ibu mengabarkan kepada saya bahwa bapak masuk rumah sakit. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Bapak yang selama ini saya kenal sebagai pribadi yang kuat dan tidak pernah sakit, tiba-tiba harus dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu yang cukup lama. Sejak saat itu perekonomian keluarga kami menjadi limbung, karena memang hanya bapak satu-satunya yang menjadi tulang punggung pencari nafkah keluarga. 

Singkat cerita, kami semua harus bisa beradaptasi dengan semua perubahan yang terjadi. Namun sayangnya proses tersebut tak bisa berjalan dengan mulus. Ibaratnya sebuah kapal yang berlayar di tengah samudera, ketika nahkodanya jatuh sakit akhirnya kapal tersebut berlayar tak tentu arah lalu menabrak karang dan akhirnya karam. Tak perlu saya jelaskan apa penyebabnya, namun pada akhirnya saya harus ikhlas menerima kenyataan ketika kedua orang tua saya memutuskan untuk berpisah.

Sejak Bapak sakit, memang sudah banyak hal yang dilalui keluarga kami. Jatuh bangun bersama namun akhirnya takdir berkata bahwa tak ada lagi kesempatan untuk terus bersama. Bersyukur akhirnya bapak saya sembuh, namun bapak memilih untuk pergi. Begitu juga dengan ibu saya. Meninggalkan saya dan kedua adik saya. Perih memang rasanya, tapi mau marah kepada siapa? pilihan saya hanya satu, terus berjalan dan bertahan serta menerima keadaan.

Usia saya 21 tahun, ketika orang tua saya berpisah. Saya baru saja lulus kuliah dan beruntungnya bisa langsung mendapat pekerjaan. Jadi meskipun tidak ada orang tua untuk bergantung, saya masih bisa menanggung biaya hidup sehari-hari untuk diri sendiri serta adik-adik saya. Meskipun bapak kemudian menikah lagi, namun bapak masih membiayai sekolah kedua adik saya sehingga beban saya tidak terlalu berat.
Foto masa kecil saya bersama keluarga saya
Jujur, saat beradaptasi dengan kondisi ini saya merasa bahwa itu adalah saat terberat dalam hidup saya. Dalam bayangan saya sejak kecil, tak pernah terpikirkan bahwa kehidupan bahagia di masa kecil saya akhirnya akan jadi seperti ini. Lalu muncul pemikiran, seandainya bapak tidak pernah sakit, pasti kami semua masih bersama. Namun begitulah cara kehidupan mengajarkan kepada saya tentang begitu banyaknya ketidakpastian dalam hidup. Sehingga tak perlu ada yang disesali. Mempercayai bahwa semua ini adalah bagian dari takdir Tuhan yang menjadikan saya yakin bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hambanya.

Iya...hidup itu memang penuh dengan ketidakpastian. Hal-hal indah yang direncanakan untuk masa depan belum tentu terwujud menjadi kenyataan. Begitu pula sebaliknya hal buruk yang dikhawatirkan juga belum tentu akan terjadi. Dari sini kemudian saya belajar untuk melakukan penilaian resiko dan menyusun rencana untuk menghadapi resiko kehidupan yang mungkin terjadi. Hal ini juga yang kemudian mendorong saya untuk sadar berasuransi sejak usia muda.

Saya memutuskan untuk mendaftar asuransi jiwa saat usia saya 22 tahun. Pertimbangan utama saya saat itu adalah karena saya merasa tidak punya siapapun di dunia ini untuk bergantung selain kepada Tuhan. Saya berpikir, bagaimana jika saya sakit atau terjadi sesuatu yang buruk pada diri saya? Bagaimana nasib kedua adik saya jika saya tidak ada. Bertawakal kepada Tuhan itu sudah pasti, tapikan uang juga tidak bisa jatuh dari langit begitu saja jika tidak diupayakan dan dipersiapkan sejak awal. Makanya kemudian saya putuskan untuk mendaftar asuransi. Setelah memiliki polis asuransi saya merasa lebih tenang, terutama karena pekerjaan saya saat itu memang menuntut saya untuk lebih banyak beraktivitas di lapangan dengan mobilitas yang cukup tinggi. Dengan memiliki polis asuransi, saya jadi merasa punya perlindungan.

Dua tahun kemudian saya menikah. Setelah berkeluarga saya kembali berpikir tentang program asuransi bagi keluarga saya. Pengalaman di masa lalu membuat saya jadi sangat memperhitungkan segala resiko yang bisa saja terjadi. Tidak bisa dipungkiri bahwa faktor ekonomi juga mempengaruhi keharmonisan dalam rumah tangga. Ini sudah saya alami sendiri yaitu saat bapak saya sakit lalu perekonomian keluarga limbung dan akhirnya berujung pada perceraian kedua orang tua saya. Saya tidak mau hal semacam ini terjadi pada keluarga saya. 

Makanya saya kemudian memutuskan untuk membeli polis asuransi lagi, demi memberikan proteksi bagi keluarga kecil saya. Namun kali ini pertimbangan saya berbeda dengan saat pertama kali membeli polis asuransi. Dari berbagai referensi yang saya baca, saya juga mulai berpikir tentang kehalalan program asuransi yang saya ikuti. Asuransi konvensional menjadi kurang pas bagi saya karena didalamnya ternyata ada unsur riba, ghoror (ketidakjelasan atau spekulasi tinggi) dan maisyirSebagai seorang muslim yang terus belajar dan berproses untuk menjadi muslim yang lebih baik maka hal ini menjadi penting bagi saya. Setelah mempelajari tentang hukum asuransi dalam Islam, akhirnya saya memutuskan untuk beralih membeli polis asuransi syariah.

Kenapa saya memilih Asuransi Syariah? 

Alasan saya sederhana saja, yaitu karena ini lebih menentramkan hati. Berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 21/ DSN-MUI/ X/ 2001, asuransi syariah didefinisikan sebagai usaha saling melindungi dan tolong-menolong diantara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk aset (tabarru') yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad atau perikatan yang sesuai syariah. Dari awal perjanjian saja akadnya sudah berbeda dengan asuransi konvensional. Jika asuransi syariah menggunakan akad hibah dengan konsep saling tolong menolong, sementara pada asuransi konvensional akadnya mirip dengan transaksi jual beli yaitu sama-sama berharap bisa mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dan kerugian yang sekecil-kecilnya. 
sumber gambar : allianz.co.id
Proses hubungan antara peserta dan perusahaan dalam mekanisme pertanggungan pada asuransi syariah adalah sharing of risk atau “saling menanggung risiko”. Apabila terjadi musibah, maka semua peserta asuransi syariah saling menanggung. Dengan demikian, tidak terjadi transfer risiko (transfer of risk atau “memindahkan risiko”) dari peserta ke perusahaan seperti pada asuransi konvensional. 

Pada asuransi syariah, perusahaan hanya bertindak sebagai pengelola operasional saja, bukan sebagai penanggung seperti pada asuransi konvensional. Premi dalam asuransi syariah dikategorikan menjadi 3 rekening. Ada rekening tabungan peserta, rekening perusahaan asuransi, dan yang paling penting adalah rekening tabarru. Rekening tabarru inilah yang nantinya akan dipakai oleh sesama peserta untuk saling menolong. Rekening ini digunakan bagi peserta yang mengalami resiko asuransi.
sumber gambar : facebook Allianz
Dalam rangka menjaga pelaksanaannya agar tetap sesuai koridor hukum Islam, produk asuransi syariah tidak berinvestasi pada usaha-usaha yang haram atau dihindari agama, seperti: minuman beralkohol, bisnis perjudian, dan rokok. Usaha dengan prinsip bunga (riba) pun tidak diperbolehkan dalam asuransi syariah. Hal ini diawasi langsung bukan hanya oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tapi juga Dewan Syariah Nasional (DSN). Beberapa alasan inilah yang membuat saya merasa semakin mantap untuk beralih ke asuransi syariah.

Allisya Protection Plus Untuk Perlindungan Maksimal Bagi Keluarga 

Tahun 2011 saya memutuskan untuk membeli produk asuransi syariah dari Allianz yaitu Allisya Protection Plus. Ini merupakan produk asuransi jiwa dan investasi yang memegang teguh prinsip syariah dalam pengelolaannya. Produk asuransi ini juga memiliki berbagai macam keunggulan yaitu sebagai berikut :


Allisya Protection Plus merupakan produk asuransi dasar yang dapat saya gunakan untuk tabungan pendidikan, dana pensiun yang sekaligus memberikan perlindungan jiwa yang pasti dan maksimal hingga maksimum berusia 100 tahun. Demi memaksimalkan perlindungan bagi keluarga, saya juga mengajukan asuransi tambahan yaitu critical illness plus dan total permanent disability serta payor benefit.


Menurut financial advisor saya, dengan adanya asuransi tambahan ini maka perlindungannya jadi semakin menyeluruh. Misalnya terjadi total permanent disability pada tertanggung atau tertanggung didiagnosis menderita salah satu dari 49 jenis penyakit kritis yang tercantum di dalam polis, maka tertanggung akan mendapatkan uang pertanggungan sebesar yang tertulis didalam kontrak. Jadi uang pertanggungan tidak hanya diterima pada saat tertanggung meninggal dunia saja. Sejujurnya saya juga tidak berharap mengalami kondisi tersebut, namun seandainya terjadi hal semacam itu minimal saya sudah sedia payung sebelum hujan.

Sejak menjadi pemegang polis Allisya Protection Plus, setiap bulan saya juga mendapatkan laporan perkembangan dana investasi saya yang kini sudah dikirimkan melalui email. Cara pembayaran premi juga bisa dilakukan dengan mudah yaitu melalui ATM, internet banking maupun auto debet. Beberapa waktu yang lalu saya pernah melakukan penarikan / withdrawall atas sebagian dana investasi yang saya miliki karena memang sedang membutuhkan dana cukup besar. Prosesnya ternyata juga cukup mudah dan tidak berbelit-belit. Dana saya bisa dicairkan kurang lebih 2 minggu sejak saya menandatangani surat pengajuan withdrawall. Dana tersebut langsung ditransfer ke rekening saya tanpa potongan. 

Polis Allisya Protection Plus
Berasuransi sekaligus berinvestasi melalui Allisya Protection Plus memang terbukti lebih menentramkan hati. Kini saya jadi lebih termotivasi untuk disiplin dalam menabung setiap bulannya. Harapan saya, suatu hari nanti saya bisa menggunakan dana investasi yang sudah terkumpul untuk melaksanakan ibadah haji atau minimal umroh dulu.

Bicara soal umroh, saat ini Allianz ternyata sedang mengadakan program Kado Umroh Allianz yang merupakan program dimana para peserta bisa mereferensikan mereka yang kurang mampu untuk mendapatkan kado umroh dari Allianz. Kado Umroh merupakan Paket Ibadah Umroh yang di dalamnya sudah termasuk akomodasi, transportasi dan uang saku. Allianz menyediakan 25 Kado Umroh untuk 25 Penerima Kado yang kisahnya terpilih sesuai tahapan seleksi dari Allianz serta 2 Paket Umroh untuk 2 Pencerita terbaik. 

Sayang sekali saya mengetahui informasi ini terlambat, karena saat ini masa pengiriman cerita sudah ditutup. Namun periode voting masih berjalan hingga akhir bulan Agustus. Padahal sebenarnya saya ingin mereferensikan ibu saya untuk bisa mendapatkan kado umroh dari Allianz. Iya, saat ini ibu memang sudah bersama dengan kami lagi. Apa yang terjadi di masa lalu sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi. Yang penting saat ini bapak dan ibu saya sudah bahagia dengan kehidupan yang mereka jalani masing - masing. Begitu juga dengan saya dan adik-adik saya. Kami sudah memiliki keluarga sendiri dan tetap menjaga tali silaturahmi satu sama lain. 

"Hidup Memang Penuh Dengan Ketidakpastian, Namun Perubahan Merupakan Suatu Hal Yang Pasti Terjadi"

Saya memang tidak bisa memprediksi dengan pasti tentang apa yang akan terjadi dalam kehidupan saya selanjutnya nanti. Karena hidup ini tidak statis, melainkan dinamis dan penuh kejutan. Jika diibaratkan sebuah cerita sinetron, maka saat ini kondisi kehidupan saya sedang berada pada cerita yang bahagia. Badai sudah berlalu, dan saya sangat bersyukur dengan segala kebaikan dan kemurahan yang diberikan oleh Tuhan kepada keluarga kecil saya saat ini. 
Bersama mereka, saya kembali menemukan tempat pulang yang hangat
Dengan memiliki produk asuransi syariah dari Allianz ini telah membuat hati saya menjadi semakin tenang dan bersyukur karena resiko yang mungkin terjadi sudah mendapatkan proteksi. Seperti resiko kematian yang bisa dipastikan akan terjadi pada siapa saja, hanya kita tidak tahu kapan waktunya tiba. Namun tentunya setiap orang berharap agar hidupnya selalu sehat dan panjang umur. Apabila saya dikarunia umur panjang, tidak ada ruginya juga memiliki polis Allisya Protection Plus karena saya masih akan mendapatkan manfaat pengembangan dana investasi yang maksimal dari premi asuransi jiwa yang telah saya investasikan selama ini, sehingga pada akhirnya nanti saya bisa menggunakan dana tersebut untuk menikmati masa pensiun yang bahagia dan sejahtera. 

Kekayaan materi memang bukan segalanya, namun nyatanya dengan materi yang kita miliki kita bisa melakukan banyak hal yang bermanfaat bagi orang lain. Seperti berbagi dengan sesama, menyantuni fakir miskin, anak yatim dan lain sebagainya. Dalam agamapun dikatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bisa memberi manfaat bagi sesama. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Melalui prinsip saling berbagi yang menjadi akad dalam asuransi syariah yang saya ikuti, saya berharap agar harta yang saya miliki juga bisa memberi manfaat bagi orang lain. 

Ya...hidup itu memang penuh dengan ketidakpastian. Namun sebagai orang beriman kita tidak perlu merasa takut dengan ketidakpastian tersebut. Ada Tuhan yang selalu menjadi pelindung kita, namun bukan berarti kita meminta perlindungan kepada Nya tanpa melakukan usaha. Menjadi pemegang polis Allisya Protection Plus merupakan salah satu ikhtiar saya untuk bertawakal kepada Tuhan dalam menghadapi ketidakpastian hidup ini.

Sumber Referensi :
https://jurnal.allianz.co.id/detail-jurnal/Indahnya-Tolong-Menolong-Dalam-Asuransi-Syariah-4212

You May Also Like

9 comments

  1. Asuransi Syariah cara kita berikhtiar, dengan tetap berserah pada Allah SWT

    ReplyDelete
  2. betul juga , hal seperti itu memang tidak bisa kiat ketahui ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, kita nggak pernah bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Yang bisa dilakukan adalah sedia payung sebelum hujan dan tetap bertawakal kepada Allah

      Delete
  3. Aku juga ikut asuransi buat anak-anakku karena dari aku kecil bapak dan nenekku juga sudah ikut asuransi mbak.

    ReplyDelete
  4. Aku juga pake asuransi, walopun bukan dr allianz :). Udah lama kalo keluargaku cendrung ke Manulife mba. Tp apapun merk asuransinya, yg ptg kita bener2 paham apa aja yg ditawarkan, dan semua aturan atopun syarat2 di asuransi itu. Buatku, asuransi mah ptg, apalagi, krn aku susah banget nabung. Takut aja anak2 nanti telantar. Makanya aku dan suami lgs bikin proteksi utk mereka. Setidaknya, kita berdua yakin, kalo sampe ada kenapa2, anak2 ga bakal telantar sampe kuliah.

    ReplyDelete
  5. ini dia jadi sudah nggak takut lagi berasuransi karena halal dan ada investasinya pula

    ReplyDelete

Terimakasih Teman-Teman Semua Atas Komentarnya :)