Oktober 17, 2017

Membaca Karakter Remaja Milenials di Film My Generation

Edit Posted by with 5 comments
Apa yang terlintas dalam pikiranmu saat melihat trailer fim My Generation karya sutradara Upi yang diproduksi oleh IFI Sinema berikut ini :


Mungkin ada yang sempat mikir begini. Wah..ini filmnya jangan-jangan ngajarin pergaulan bebas kepada remaja atau malah mempengaruhi anak-anak jaman now untuk semakin berani melawan guru dan orang tuanya. Kayaknya ini film bakal ngasih pengaruh yang nggak bener deh buat anak-anak saya. Lha wong baju-baju yang dipakai sama pemainnya pada seronok gitu. Ah..pokoknya saya nggak akan nonton film ini, apalagi sampai ngijinin anak saya buat nonton. No way! Nggak boleh, saya takut nanti anak saya jadi terpengaruh sama tingkah laku remaja yang nggak bener.

Ini cuma mungkin lho...mungkin ada yang mikir seperti itu. Ya boleh dan sah saja kok punya pendapat seperti itu. Kenyataannya kalau menurut saya sih cara berpakaian beberapa tokoh remaja di film ini memang ada yang kurang sesuai dengan nilai-nilai yang saya anut. Walaupun sebenarnya gaya busana seperti itu nggak cuma ada di film ini saja. Banyak film lain yang mungkin bajunya jauh lebih vulgar. Tapi saya akui bahwa apa yang ditampilkan dalam film My Generation ini merupakan potret dunia remaja jaman now (walopun nggak secara keseluruhan) yang suka atau tidak suka memang begitulah realitasnya. Contohnya fenomena awkarin yang kini jadi idola dan panutan para remaja dan bahkan ada juga orang-orang dewasa yang ngefans sama dia (tapi bukan termasuk saya). Sebagai orang tua sayapun nggak bisa menutup mata dari kenyataan yang ada saat ini.

Remaja era milenials, begitulah label yang disematkan pada anak-anak jaman sekarang. Jika jaman dulu Bung Karno pernah berkata, "Berikan aku sepuluh pemuda maka akan kuubah dunia." Mungkin jika dijaman sekarang, "Berikan aku satu remaja. Pusing kepalaku dibuatnya. " 

Iya..seperti itulah labeling yang terlanjur melekat pada remaja era milenial saat ini. Persis seperti yang dihadapi oleh para orang tua dalam film My Generation dan mungkin juga oleh sebagian orang tua di dunia nyata saat ini. Padahal jika mau berkaca, sesungguhnya apa yang terjadi pada sebagian remaja kita sekarang tentulah karena hasil didikan dari para orang tuanya jugakan? 

Lho jadi mbaknya mau nyalahin orang tua yang pada salah didik gitu maksudnya? Hmm..ya enggak juga sih. Lha wong saya sendiri sadar bahwa mendidik anak itu bukanlah perkara mudah. Saya bahkan dulu pernah nulis begini di status fb saya :

"Membangun gedung, bikin kereta api atau pesawat butuh sekolah khusus dan pendidikan yang sangat tinggi...begitu juga membangun karakter anak yang jauh lebih besar dari sekedar membangun gedung atau bikin pesawat...maka orangtua perlu belajar..belajar..dan terus belajar..."

Iya..tapi sayangnya jadi orang tua itu nggak pernah ada sekolahnya. Yang belajar tentang ilmu pendidikan itu cuma guru, tapi nyatanya pendidikan anak itu nggak bisa 100% diserahkan sama guru sekolah. Kita sebagai orang tua justru punya tanggung jawab yang paling besar dalam mendidik anak-anak kita sendiri. And its not easy.
Empat tokoh remaja di film My Generation
Film My Generation ini menceritakan tentang 4 tokoh remaja dengan karakter berbeda dan tentunya latar belakang keluarga yang beda juga yaitu Suki, Orly, Zeke dan Konji. Diawali dengan gagalnya mereka pergi liburan karena video buatan mereka yang memprotes guru, sekolah, dan orangtua jadi viral di sekolah mereka. Hingga mereka dihukum tidak boleh pergi liburan. Tapi mereka nggak mau diam saja sambil mengutuki keadaan dan membuat orang-orang yang sudah menghukum mereka puas. Liburan sekolah yang terkesan tidak istimewa, akhirnya justru membawa mereka pada kejadian-kejadian dan petualangan yang memberi pelajaran sangat berarti dalam kehidupan mereka.
Zeke Quote
Konflik yang dihadapi oleh 4 remaja tersebut juga berbeda-beda. Mulai dari orang tua yang terlalu protektif hingga orang tua yang ternyata malah bikin kecewa karena nggak konsisten dengan apa yang dikatakan. Meskipun kadang ada memang orang tua yang protektif sama anaknya dengan alasan saking sayangnya, tapi cara seperti itu adalah cara menyayangi yang kurang pas. Seperti pada karakter konji yang digambarkan sebagai pemuda polos dan naif yang sedang mengalami dilema pada masa pubertasnya. Sementara orang tuanya sangat kolot dan over protektif, hingga suatu hari konji menemukan peristiwa yang bikin dia shock dan kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya. Ia justru jadi mempertanyakan moralitas orang tuanya yang kontradiktif dengan semua peraturan yang mereka tuntut pada Konji.
Orly Quote
Fenomena orang tua yang nggak konsisten ini di dunia nyata juga banyak terjadi. Dan ini yang sering bikin anak-anak jadi bingung kemudian berani protes atau mungkin melawan. Sayangnya kadang ada orang tua yang defensif, nggak mau dikritik dan selalu merasa dirinya benar. Sedangkan anak dianggap sebagai pihak yang selalu salah dan harus nurut apa kata orang tua. Ini lho yang bisa jadi sumber bibit kenakalan remaja karena anak jaman now udah nggak bisa digituin lagi.
Konji Quote
Saya dulu waktu masih remaja juga sempat mengalami konflik sama orang tua, penyebabnya ya karena saya merasa orang tua saya nggak konsisten. Lebih parah lagi ketika akhirnya orang tua saya divorce dan saya sempat jadi anak terlantar yang nggak diperhatiin lagi sama mereka. Then saya merasa lebih nyaman bergaul dengan teman-teman dekat saya yang rata-rata laki-laki. Sering pulang pagi, tapi untungnya saya nggak sampai terjerumus ke arah pergaulan bebas. Makanya setelah sekarang saya jadi orang tua, saya nggak mau hal semacam itu kelak terjadi pada anak saya. So saya dan suami udah saling berkomitmen bahwa kami akan terus belajar tiada henti untuk bisa jadi orang tua yang baik bagi anak-anak kami.
Suki Quote
Faktor lingkungan pergaulan saat ini juga udah beda banget sama jaman dulu. Apalagi kalau ngomongin soal drugs. Saya sih jadi ngeri banget waktu denger cerita dari seorang teman yang pernah kerja di BNN. Katanya sekarang nih negara kita udah kalah melawan narkoba karena laju pertumbuhan transaksi bisnis narkoba nilainya kini udah kejar-kejaran sama laju APBN. Kita udah nggak bisa lagi memberantas pasar narkoba, yang bisa kita lakukan adalah menjaga jangan sampai anak-anak kita terjerumus jadi pengguna narkoba. Kita udah nggak bisa lagi sterilisasi, yang bisa kita lakukan adalah imunisasi karena virusnya udah merajalela. Ngerikan? Cara imunisasinya gimana? Ya dengan mengembalikan peran dan fungsi keluarga pada fitrahnya, menguatkan akhlak, mental dan karakter anak biar mereka nggak gampang terbawa arus pergaulan dan globalisasi.

Ibaratnya orang mau perang, sebagai orang tua kita juga harus tau medan seperti apa yang akan kita hadapi bersama dengan anak-anak kita. Tugas kita adalah terus membersamai mereka agar tidak sampai salah melangkah. Kalau kita nggak tau medan perang jaman sekarang kayak gimana, jangan-jangan kita sendiri malah bisa nginjek ranjau...dan boom..meledak deh kayak bom waktu. Makanya kalau pengen tau seperti apa sih dunia serta karakter remaja milenial dan masalah-masalah yang dihadapi remaja jaman now, tontonlah fim My Generation ini. Karena film ini infonya dibuat berdasarkan riset nyata pada remaja milenial yang katanya sih perilakunya udah makin bikin pusing para orang tua.
Para pemeran film My Generation , ada babang Surya Saputra idolaku ^^
Jika perlu ajak juga anak remaja kita untuk ikut nonton. Syukur-syukur nontonnya bisa bareng sama orang tuanya. Habis itu ajak deh mereka diskusi tentang apa pesan yang didapatkan dari film My Generation ini. Karena konon kabarnya film ini memiliki banyak pesan yang ingin disampaikan untuk para remaja dan orang tua di jaman now. Dan jangan lupa untuk menegaskan pada anak-anak kita bahwa hal-hal negatif yang ditampilkan dalam film ini tidak layak untuk ditiru.

Empat tokoh utama dalam film My Generation ini diperankan oleh aktor dan aktris yang benar-benar baru, yaitu Brian Angelo, Arya Vasco, Lutesha, dan Alexandra Kosasie. Tujuannya supaya bisa menampilkan wajah baru dan fresh dalam dunia perfilman Indonesia. Selain itu ada juga beberapa artis senior yang turut meramaikan film ini yaitu Ira Wibowo, Surya Saputra, Joko Anwar, Indah Kalolo, dan beberapa artis terkenal lainnya.

So..gimana nih..bapak-bapak, ibu-ibu dan sodara-sodara sekalian, apaka
h setelah baca tulisan saya jadi semakin alergi dan nggak pengen nonton film ini? Atau justru jadi penasaran pengen nonton film My Generation? Kalau saya sih penasaran banget sama endingnya. Tunggu ya....tanggal mainnya di bioskop mulai tanggal 9 November 2017.


Reactions:

5 komentar:

  1. Setuju sekali, Mbak Arifah.
    Jadi jangan menilai film dari poster atau trailernya saja.
    Tapi tonton filmnya secara keseluruhan.

    BalasHapus
  2. Iya, kalo untuk pertama kali liat trailernya pasti bakal negting duluan, hihi
    Secara masih banyak juga ortu yg menanamkan adat ke timur an dalam berpakaian, tapi kembali lagi.. mending nonton dulu sebelum komentar. Atau menilai yg gak gak Hee

    BalasHapus
  3. Iya.. Memang banyak yang pro dan kontra dari melihat poster dan trailernya. Tapi, untuk lebih jelas dan mendapatkan sesuatu yang menarik, lebih baik nonton di tgl 9 Nov nanti. Karena film ini kisah nyata juga, jadi orang tua pun harus tahu, bagaimana kehidupan anak2 jaman sekarang

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. sebenarnya dengan poster film yg macam itu, yg bikin kaget ortu, malah bisa jadi bahan diskusi antara anak dengan ortu. Apa sih pikiran mereka tentang itu, tanya pendapatnya. Ortu jadi tahu apa yg ada di kepala anak jadinya

    BalasHapus

Terimakasih Teman-Teman Semua Atas Komentarnya :)