Oktober 01, 2016

Belajar Untuk Perubahan

Edit Posted by with 3 comments
Keberhasilan seseorang bukan hanya ditentukan oleh sebuah pendidikan formal. Banyak orang yang membuktikan bahwa dirinya bisa berhasil walaupun mungkin tidak lulus SMA atau tidak punya ijazah sarjana. Yang terpenting untuk bisa mencapai sebuah keberhasilan adalah adanya semangat untuk belajar. Belajar bisa dilakukan dimanapun, kapanpun dan dengan cara apapun. Dengan adanya semangat dan kemauan untuk selalu belajar maka kita akan dapat menuai sebuah keberhasilan dalam hidup.

Belajar itu juga tidak mengenal usia. Dari mulai bayi, balita, remaja, dewasa hingga usia tua kita tetap berkewajiban untuk terus belajar. Proses belajar tidak hanya terbatas pada ruang kelas formal atau tumpukan buku. Belajar bisa dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Seorang pria yang biasa jual jam tangan di dekat kantor saya saja setiap hari bisa belajar dengan membaca koran atau majalah yang selalu dibawanya saat menunggu pembeli datang. Yang saya tahu meskipun dia hanya lulusan SMP, tapi wawasannya cukup luas karena kegemarannya membaca tersebut. Jadi belajar memang tidak hanya terbatas harus di ruang kelas tapi bisa dimana saja. 

Jalaluddin Rakhmat seorang cendikiawan muslim mengatakan bahwa alam raya ini adalah sebuah buku besar yang babnya tak terkira-kira, tergantung pada kemampuan dan kemauan manusia untuk mempelajari bab yang tak terkira itu. Tetapi buku yang lebih besar adalah kehidupan itu sendiri.

Belajar adalah sarana untuk mengisi keingintahuan akal kita, namun belajar menjadi tidak berarti apa-apa manakala tidak terjadi perubahan perilaku yang lebih baik dalam kehidupan kita berdasarkan pengetahuan yang telah kita miliki. Misalnya pengetahuan tentang pentingnya memanajemen waktu dengan baik demi menuju kesuksesan. Selama beraktivitas di kantor, mungkin kita juga sudah memakai jam tangan setiap hari. Namun dalam prakteknya kita tetap saja jam karet  dan sering terlambat saat menghadiri undangan rapat atau pertemuan. Selain itu mungkin kita juga masih suka menunda-nunda dalam menyelesaikan pekerjaan, tidak disiplin, tidak memanfaatkan waktu dengan baik padahal waktu ibarat pedang. Jika kita tidak mampu memanfaatkannya maka waktu tersebut akan menebas kita. Pada kenyataannya memang banyak orang yang hidupnya sukses karena menggunakan waktunya dengan sebaik mungkin demi melakukan hal-hal yang positif bagi dirinya dan juga bagi orang lain.
Waktu Ibarat Pedang

Memang dalam prakteknya lebih sulit untuk menerapkan apa yang kita ketahui dan telah kita pelajari jika dibandingkan dengan proses belajar untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. Namun proses menuju perubahan kearah yang lebih baik walaupun prosesnya berjalan sangat perlahan asal kita mau melakuannya maka dampaknya akan sangat besar bagi keberhasilan kita. Sehingga tidak ada kata menyerah dalam belajar, walaupun kegagalan bisa saja sewaktu-waktu datang menghampiri.

Gagal bukan berarti akhir dari segalanya justru gagal merupakan sebuah pembelajaran bagi diri kita bahwa memang ada hal-hal yang harus kita perbaiki. Jika kita mau terus belajar, mau belajar dari kegagalan yang kita terima, mau belajar untuk bisa jadi lebih baik dalam setiap kata dan tingkah laku kita maka kemungkinan besar kita akan menjadi manusia yang berhasil. Sehingga memang tidak ada kata terlambat untuk belajar apalagi kata untuk berhenti belajar dalam hidup ini. So, teruslah semangat belajar untuk sebuah perubahan.


Reactions:

3 komentar:

  1. baca, baca, dan baca. baca terus untuk menambah wawasan. setuju. sebagian bisa kita terapkan ke prilaku dan kehidupan sehari-hari, sebagian lagi tidak. karena upaya yang kita lakukan bersifat kondisional :D

    salam kenal.
    sabdaawal.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mas salam kenal juga :D terimakasih sudah mampir

      Hapus
  2. Kegagalan yang bikin terus mencoba dan mencoba ya Mak Ari demi berubah ke arah lebih baik.

    BalasHapus

Terimakasih Teman-Teman Semua Atas Komentarnya :)