Oktober 20, 2014

#BlogVisitPertamina Bagian 1 : Flight to Denpasar

Edit Posted by with 10 comments
Kaget. Senang. Bersyukur. Bingung. Rada galau. Itulah perasaan nano-nano yang saya rasakan ketika tahu bahwa saya terpilih sebagai pemenang ke-2 lomba Blog Bincang LPG 12 Kg yang diselenggarakan oleh Pertamina dan Kompasiana beberapa waktu lalu. (Pengumuman pemenang bisa dilihat di sini)

Kaget, tentu saja saya kaget karena saya merasa tulisan yang saya ikutkan dalam lomba blog tersebut kualitasnya biasa saja. Menurut saya masih banyak tulisan peserta lain yang lebih bagus dari tulisan saya. Sehingga saya benar-benar kaget saat membaca nama saya terpampang di pengumuman sebagai juara ke-2. (Tulisan saya yang menang lomba bisa dibaca di sini)

Selain itu saya juga merasa senang dan bersyukur banget karena sejak pertama membaca pengumuman tentang lomba blog bincang LPG 12 Kg ini saya memang sudah ngincer Sony Mirrorless Camera yang akan diberikan sebagai hadiah bagi juara ke-2. Dan ketika saya tahu bahwa juara ke-2 nya adalah saya, rasanya seperti mimpi yang jadi kenyataan. Alhamdulilah bersyukur banget, bisa dapetin kamera keren ini secara gratis. Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?

Bingung dan Agak Galau. Kenapa? karena selain dapat hadiah kamera, ternyata saya dan 9 kompasianer beruntung lainnya akan diajak jalan-jalan ke Bali dengan biaya ditanggung seluruhnya oleh Pertamina. Senang sih, tapi yang bikin saya jadi bingung dan rada galau adalah saya harus berangkat sendiri tanpa anak dan suami. Selain itu saat saya melihat satu per satu profil pemenang jalan-jalan ke Bali ternyata saya tidak menemukan nama peserta cewek selain saya sendiri. Dari sepuluh kompasianer yang berangkat ke Bali hanya saya sendiri yang statusnya emak-emak. Yang lain adalah bapak-bapak dan mas-mas yang belum pernah saya kenal sebelumnya.

Saya sempat ragu untuk memutuskan ikut berangkat ke Bali atau tidak. Namun berkat motivasi dari beberapa teman KEB serta dorongan dari suami, akhirnya saya memutuskan untuk berangkat. Dorongan dari Suami merupakan semangat terbesar saya untuk jadi pergi ke Bali. Kata Suami saya, tidak masalah jika saya ke Bali. Urusan mengasuh Tayo dan mengurus rumah selama saya pergi tak perlu dipikirkan. Suami saya berjanji bahwa semua akan baik-baik saja jika saya tinggal jalan-jalan ke Bali. Akhirnya setelah mendapat ijin dan ridho dari Suami serta mengambil cuti kerja selama 3 hari, berangkat juga saya ke Bali untuk mengikuti kegiatan #BlogVisitPertamina bersama Pertamina dan Kompasiana.

Goodbye Mom...Have a nice flight

Jogjakarta Rabu, 8 Oktober 2014

Jam 14.30 saya tiba di bandara Adi Sucipto Jogjakarta dengan diantar suami dan anak tercinta. Sebelum berangkat saya sudah kontakan dulu dengan 3 pemenang blog kontes pertamina yang juga sama-sama berasal dari Jogja. Mereka adalah Fandi Sido, Hendra Wardhana dan Dwi Suparno. Kami janjian ketemu di Bandara. Siang itu seperti biasa Bandara Adi Sucipto crowded banget. Setelah celingukan sana sini akhirnya ketemu juga saya dengan Hendra Wardhana yang sudah menunggu di depan pintu masuk bandara. Tak lama kemudian Fandi Sido juga datang bergabung. Bertiga kami masuk ke bandara untuk check-in dan bertemu dengan Dwi Suparno yang ternyata sudah sampai bandara sejak jam 14.00 tadi.

Pertama bertemu kami ber-4 langsung ngobrol seru. Mungkin karena sama-sama blogger jadi sekalinya ngobrol kami semua langsung nyambung satu sama lain. Sore itu kami berempat akan terbang ke Bali dengan penerbangan GA-252. Meski sempat delay selama 30 menit, akhirnya pesawat bisa juga diberangkatkan pada jam 16.50. Di dalam pesawat saya duduk bersebelahan dengan Fandi. Sejak pertama baca profilnya di Kompasiana saya memang sudah tertarik ingin ngobrol lebih banyak dengan Fandi. Fandi adalah juara 1 lomba blog bincang LPG 12 Kg yang diselenggarakan Pertamina. Selain itu Fandi juga merupakan Fiksianer terbaik tahun 2013 versi Kompasiana dan tulisannya di Kompasiana itu memang keren-keren banget. Usia Fandi jauh lebih muda dari saya dan statusnya masih single. Mungkin usianya seumuran dengan adik laki-laki saya, tapi pembawaannya sangat smart dan dewasa (jangan ge-er ya Fan kalo baca tulisanku ini). Menariknya lagi ternyata Fandi ini kenal juga sama mas Odi, mantan bos saya waktu masih kerja di LSM dulu. Hehehe...ternyata dunia ini sempit ya. Jadilah sepanjang perjalanan menuju Bali selain ngobrol soal dunia tulis menulis, kami juga asik ngobrol ngalor ngidul tentang mas Odi.

Jam 19.15 WITA akhirnya tiba juga kami di Denpasar Bali. Pesawat berhasil landing dengan smooth di Bandara Internasional Ngurah Rai Denpasar Bali. Hendra segera menghubungi pak ucan dari PTC Pertamina, mengabarkan bahwa rombongan dari Jogja sudah tiba dan butuh jemputan. Pak Ucan menjawab bahwa yang akan menjemput kami adalah petugas dari Hotel Patrajasa yang ternyata sudah menunggu kami di dekat Solaria. Kami ber-4 pun bergegas menuju Solaria dan disana memang sudah menunggu seorang pria berbusana khas Bali warna putih. Dengan sigap ia langsung membantu kami memasukkan koper dan tas ke dalam bagasi mobil lalu berangkat mengantar kami menuju Hotel Patrajasa.

Hotel Patra Jasa, Denpasar, Bali
Ternyata jarak antara hotel dengan bandara itu dekat sekali. Nggak sampai 10 menit kami sudah sampai di hotel. Saat itu rombongan dari Jakarta belum ada yang datang, rombongan kami merupakan rombongan kedua yang tiba di hotel. Sebelumnya Pak Syukri peserta yang berasal dari Takengon Aceh sudah check in lebih dulu dan sepertinya sudah beristirahat dengan nyaman di kamarnya sehingga kami tidak sempat bertemu dengan beliau.

Setelah menunggu beberapa saat datanglah seorang petugas hotel yang akan mengantar kami menuju kamar masing-masing. Saya dapat kamar nomor 247. Kamarnya besar sekali dan saat pertama kali masuk kamar saya benar-benar merasa kesepian. Sayapun langsung menelpon suami mengabarkan bahwa saya sudah sampai Denpasar dengan selamat, menanyakan kabar Tayo yang ternyata sama sekali tidak mencari saya dan merasa hepi-hepi saja ditinggal berdua di rumah dengan papanya. Usai menelpon saya segera membersihkan diri, sholat dan menata barang-barang.

Suasana di dalam kamar 247

Kemudian hp saya berbunyi, ternyata Hendra, Fandi dan Pak Dwi mengajak keluar untuk mencari makan malam. Menurut petugas di loby hotel, malam itu belum ada kejelasan tentang jatah makan malam bagi kami. Apalagi panitia dari Jakarta juga belum ada yang datang. Sehingga kami yang memang sudah kelaparan memutuskan untuk cari makan di luar saja. Kami ber-4 bertemu di lobi dan masih bingung kira-kira mau cari makan dimana. Seingat kami tadi di pintu keluar dekat bandara Ngurah Rai ada banyak food court, sehingga kami memutuskan untuk makan malam disana saja. Namun ternyata tidak ada angkutan dari pihak hotel yang bisa mengantar kami kesana karena semua mobil sedang sibuk mengantar jemput tamu sehingga kami disarankan untuk naik Taksi saja. Setelah berdiskusi akhirnya kami memutuskan untuk jalan kaki saja, karena kami juga tidak melihat ada taksi atau angkutan umum yang lewat di sekitar hotel. Dan...jalan kakipun dimulai. Ternyata jaraknya terasa sangat jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. Kami berempat mulai keringetan dan ngos-ngosan, sementara letak bandara masih cukup jauh.

Di tengah jalan tiba-tiba saya kepikiran, kenapa kita nggak telpon pak Ucan saja yang dari Pertamina. Nanyain kek.. soal jatah makan malam kita. Sepertinya nggak mungkin deh, kalau Pertamina nggak mikirin jatah makan malam buat kita. Dan benar juga, setelah saya telpon pak Ucan ternyata dikatakan bahwa kami bebas mau makan apa saja di restoran hotel Patra Jasa. Kami hanya perlu bilang ke kasir bahwa kami adalah tamunya Pak Ucan dari Pertamina, lalu menyebutkan nomor kamar kami pada petugas kasir restoran dan biaya makan malam semuanya akan ditanggung oleh Pertamina. 

Mendengar kabar gembira tersebut, kami langsung jejingkrakan dan segera balik arah jalan kaki kembali ke Hotel. Kenapa nggak dari tadi ya kepikiran nelpon pak Ucan...hahaha..untung belum sampai Solaria, nggak jadi tekor buat bayar makan malam deh:)

Sampai di restoran hotel, kami segera memesan makanan. Busyet..harga makanannya mahal-mahal banget. Nasi goreng saja harganya nyampe 200ribu. Langsung jatuh miskin nih saya kalau makan disini mesti bayar sendiri. Untungnya yang bayar Pertamina ya..jadi nggak usah mikirin biaya. Pokoknya tinggal pesen aja trus makan saja sampai kenyang. Sambil makan kami ber-4 kembali ngobrol. Dari obrolan tersebut, saya jadi tahu lebih banyak tentang latar belakang masing-masing peserta dari Jogja seperti Pak Dwi yang ternyata seorang bapak yang sudah memiliki 2 putra dan tinggal di daerah Piyungan. Pak Dwi juga sudah cukup lama aktif menulis di Kompasiana dan baru saja menang juga di lomba blog yang diselenggarakan oleh Deltomed dan Kompasiana. Selain Pak Dwi dan Fandi yang sudah malang melintang cukup lama di Kompasiana, ternyata Hendra juga termasuk kompasianer yang sudah eksis cukup lama. Hendra  yang juga seorang mahasiswa S2 UGM Jurusan Biologi saat ini sedang sibuk menyelesaikan tesisnya. Ia juga merupakan salah satu nominasi dalam Kompasianival 2014 kategori Best In Citizen Journalism. Yuk..yuk..yang punya akun Kompasiana dan mau bantuin Vote buat Hendra bisa ikutan online votingnya di sini

Pak Dwi, Saya, Fandi lagi ngobrol sambil nunggu makanan. Yang motoin Hendra
penampakan nasgor yang harganya 200ribu. dok : Dwi Suparno

Selesai makan, kami melihat di lobi hotel sudah berkumpul rombongan peserta yang baru tiba dari Jakarta. Kamipun segera menghampiri mereka lalu salim-salim sambil kenalan. Senangnya saya saat melihat bahwa dalam rombongan tersebut ada admin cewek dari Kompasiana bernama Nur Hasanah yang juga akan jadi teman sekamar saya. Wah...akhirnya ketemu juga sama makhluk yang sejenis..hehehe. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, sayapun mengajak mbak nur untuk bergabung dengan saya ke kamar untuk segera beristirahat. Karena rasanya memang sudah capek dan ngantuk banget.
Foto bersama dgn rombongan Kompasianer dari Jakarta
Begitu masuk kamar saya langsung merebahkan diri di kasur. Tapi tidak dengan mbak nur, ternyata mbak nur bukannya langsung siap-siap mandi atau siap-siap tidur. Tapi malah langsung buka laptop. Maklum punya pekerjaan sebagai admin Kompasiana, jadi begitu sampai hotel mbak nur punya tanggung jawab untuk bikin reportase pejalanan dan segera diposting di Kompasiana. Ah..kalau saya sih sudah nggak kuat lagi buat nulis..mata sudah terasa berat. Sayapun segera mengucapkan selamat malam pada mbak nur dan tidur terlelap dalam hangatnya selimut dan empuknya kasur di hotel Patra Jasa malam itu.


Bersambung ke sini


Reactions:

10 komentar:

  1. kamarnya bikin betah,,nggak pengen balik kerumah jadinya,,maunya barang2nya dipindah aja wes ke rumah,,hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe..kalau aku tetep pengen balik ke rumah mak..nggak mau di Bali terus..kasian anakku..hehehe

      Hapus
  2. Alahmdulillah... kesampaina yaa... Mbak pengen jadi juara yang gak muluk2, padahal orang lain (termasuk saya tapi gak ikutan sih) pasti pengen juara 1 ^^
    untungnyaaa... bisa ajak si kecil juga ke Bali. Dia pasti happy!

    BalasHapus
  3. eh ternyata Tayo gak diajak >.< maap salah fokus pas baca, liat potonya Tayo siiih >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya..sayangnya Tayo nggak bisa ikut mak:(

      Hapus
  4. selamat maakk...foto makanannya mana??? nasi goreng 200 ribunya koq gak difoto dulu??? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe..udah di update tu mak foto nasgornya udah aku tambahin..hehe..padahal kalo dimakan biasa aja lho rasanya. cuma porsinya aja yang segede wajan^^

      Hapus
  5. Baru di Bali ini saya rasakan kamar yang TV-nya 2, AC-nya juga 2....

    Eeee... putaran kerannya juga 2... masih sering bingung gimana biar airnya dingin atau anget, biar mancur di bawah atau di atas...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untung nggak kena jebakan betmen londry sama mini bar ya fan^^

      Hapus
  6. serba minimalis, mba...

    kalau ada Pak Marlo baru deh pede pakai ini-itu... huehehe..

    BalasHapus

Terimakasih Teman-Teman Semua Atas Komentarnya :)