September 26, 2014

Bijak Mengelola Keuangan Keluarga Demi Kehidupan Yang Lebih Sejahtera

Edit Posted by with 14 comments
“Baru sampai pertengahan bulan tapi gaji bulan ini kok sudah habis ya”

“Saya sudah kerja cukup lama dan memiliki
gaji yang lumayan besar. Tapi sampai sekarang saya tetap nggak punya apa-apa . Boro-boro punya rumah, harta yang saya miliki cuma ada handphone saja”

Kira-kira seperti itulah keluhan yang sering saya ucapkan dulu ketika saya masih berusia sekitar 24-25 tahunan. Kala itu saya memang sudah bekerja di sebuah instansi pemerintah namun status saya masih single dan belum menikah. Dulu tiap kali habis gajian saya punya kebiasaan ngopi-ngopi cantik atau makan-makan di cafe bersama teman. Tapi menjelang pertengahan bulan kebiasaan kami langsung berubah halauan jadi nongkrong di warteg atau angkringan. 


Setelah menikah saya pikir keadaannya akan membaik, karena pemasukan saya jadi dobel yaitu dari gaji saya sendiri dan gaji suami. Namun nyatanya pada awal tahun pertama pernikahan, saya masih saja mengalami kesulitan dalam mengelola keuangan. Sebenarnya masalahnya juga karena saya dan suami sama-sama punya hobi makan-makan di luar. Tiap malam ada saja tempat makan yang kami datangi untuk sekedar jelajah kuliner. Gaji bulanan saya dan suami selalu habis tak bersisa setiap bulannya, padahal kami berdua sebenarnya ingin menabung agar bisa segera membeli rumah sendiri. Kami berdua sempat berpikir untuk mencoba meningkatkan pendapatan dengan cara membuka usaha sampingan namun modal dari mana karena tabungan saja kami tidak punya. Kondisi ini lama-lama bikin kami khawatir, bagaimana nanti kalau kami sudah punya anak. Apa iya mau hidup dengan cara seperti ini terus?
“Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa yang penting dalam hidup ini bukanlah banyak uang yang bisa dihasilkan, tetapi berapa banyak uang yang bisa disimpan. Memiliki uang tanpa kecerdasan finansial akan membuat uang itu cepat habis”

Suatu hari saat sedang membaca-baca buku yang terkait masalah finansial saya menemukan sebuah tulisan yang membuat saya akhirnya sadar tentang dimana letak kesalahan saya selama ini. Ternyata saya memang belum pandai mengelola uang. Membaca tulisan tersebut membuat saya merasa bahwa yang sudah saya lakukan selama ini benar-benar bodoh. Selama ini saya telah menyia-nyiakan uang yang saya terima dan menggunakannya dengan kurang bijak. 

sumber gambar dari SINI
Hal ini kemudian jadi mendorong saya untuk belajar lebih banyak tentang masalah finansial. Sudah saatnya saya melek finansial, kalau tidak mau belajar akan jadi bagaimana masa depan keluarga saya kelak? Masalah uang memang bukan segalanya. Namun nyatanya tanpa uang yang cukup, sebuah keluarga bisa saja jadi berantakan karena tidak mampu mengelola stres yang datang manakala kebutuhan keluarga semakin meningkat. Gaji yang besar bukanlah jaminan untuk bisa hidup sejahtera jika pengelolaannya tidak cerdas. Banyak orang yang memiliki gaji besar tapi malah hutangnya  menumpuk dimana-mana. Namun sebaliknya ada pula orang yang gajinya pas-pasan tapi malah bisa menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi dan bebas dari hutang. Hal ini bisa terjadi karena adanya perbedaan dalam hal pengelolaan keuangan keluarga.
“Kecerdasan finansial seseorang bisa dilihat dari bagaimana kemampuannya dalam mengelola uang yang dimilikinya sehingga uang tersebut bisa mendatangkan asset dan kekayaan bagi dirinya. “

Saya kemudian mencoba berkaca pada diri sendiri, kenapa ya selama ini rasanya uang yang saya terima hanya numpang lewat saja? Kira-kira sudah benarkah cara saya mengelola uang? Dari hasil membaca berbagai referensi akhirnya saya tahu bahwa masalah saya terletak pada sisi pencatatan dan perencanaan keuangan. Sebenarnya di kantor saya sudah terbiasa menyusun rencana anggaran kegiatan serta mencatat setiap pengeluaran kantor, namun hal ini malah tidak pernah saya terapkan dalam mengelola keuangan keluarga saya sendiri.  Akhirnya saya pun mencoba untuk mulai menerapkan beberapa langkah pengelolaan keuangan secara sederhana dengan harapan hal ini bisa memperbaiki pola pengelolaan uang yang telah saya lakukan. Berikut langkah-langkah yang sudah saya lakukan untuk perbaikan :

  1. Melakukan pencatatan terhadap semua penerimaan dan pengeluaran uang serta menjumlahkannya dalam kurun waktu sebulan penuh.
  2. Setelah semua tercatat, saya mulai memilah mana yang termasuk pengeluaran primer, sekunder dan tersier. Masing-masing pengeluaran saya buat kelompok dan saya pisahkan dalam kolom-kolom tersendiri.
  3. Meneliti satu per satu jenis pengeluaran saya. Untuk pengeluaran primer seperti kebutuhan makan sehari-hari saya cek lagi kira-kira prosentasenya mencapai 30% dari total penghasilan atau tidak. Menurut referensi yang saya baca jika kebutuhan makan saja bisa mencapai 30% itu artinya hal ini harus di evaluasi ulang. Mungkin ada pemborosan seperti biasa makan di luar dan sebagainya yang sebenarnya bisa disiasati dengan membawa bekal makanan dari rumah yang tentunya bisa lebih menghemat pengeluaran.
  4. Meneliti pos pengeluaran kebutuhan sekunder dan tersier, jika menemukan jumlah pengeluaran yang terlalu banyak misalnya beli baju baru, tas baru , sepatu baru dan lain sebagainya yang sebenarnya tidak prioritas maka hal ini sebisa mungkin saya kurangi atau dihilangkan saja.
  5. Setelah selesai maka saya buat proyeksi rencana pengeluaran untuk bulan depan kemudian saya kurangkan antara pendapatan bulan depan dengan rencana pengeluaran yang telah saya buat. Hasilnya ketika ada sisa maka alokasinya harus langsung masuk ke tabungan.
  6. Saya bertekat untuk disiplin setiap bulan dalam mematuhi rencana pengeluaran yang sudah saya tetapkan. Setiap kali menerima gaji, alokasi yang memang untuk ditabung langsung saya masukkan ke dalam tabungan. Sementara alokasi untuk konsumsi sebisa mungkin saya gunakan sesuai dengan rencana konsumsi yang telah saya susun pada bulan sebelumnya.

Hal ini rutin saya lakukan secara disiplin dan terus menerus. Hasilnya saya jadi mulai jarang mengeluh kehabisan uang sebelum akhir bulan. Hidup saya mulai terasa lebih tenang karena sudah punya tabungan, jadi apabila ada kebutuhan mendesak sewaktu-waktu kami tidak kelabakan mencari hutang sana-sini. Namun masih ada satu masalah yaitu saat itu kami belum bisa mewujudkan keinginan untuk bisa memiliki rumah sendiri. Tabungan yang kami kumpulkan belum cukup untuk membeli rumah, tapi sudah cukup jika hanya digunakan untuk membayar uang mukanya saja. Sehingga saya dan suami akhirnya mencoba menghitung-hitung untuk mengambil kredit pembelian rumah. 


Wah berhutang dong? Iya kami memang berencana untuk berhutang. Lagi-lagi menurut buku referensi yang pernah saya baca, berhutang itu tidak selalu berkonotasi negatif. Berhutang itu boleh saja asal tujuannya jelas dan perhitungannya juga pas sehingga tidak terjadi tunggakan pembayaran atas hutang yang sudah kita lakukan. Jangan sampai berhutang hanya untuk menutupi hutang yang lain atau untuk membeli barang-barang konsumtif yang kurang berguna. Jika kita berhutang, pastikan bahwa hutang ini kita gunakan untuk mendapatkan pemasukan yang lebih besar misalnya hutang untuk modal bisnis atau investasi. 

Pada dasarnya hutang terbagi dalam 2 jenis yaitu hutang produktif dan hutang konsumtif. Hutang produktif adalah hutang yang dapat meningkatkan aset atau menambah penghasilan. Contohnya hutang untuk membeli mobil lalu mobilnya digunakan untuk usaha rental. Atau hutang untuk membeli rumah kemudian dikontrakkan dan memberikan penghasilan. Sementara yang dimaksud dengan hutang konsumtif adalah hutang yang digunakan membeli sesuatu untuk penggunaan pribadi dan harganya cenderung menurun. Contohnya hutang untuk membeli gadget, hutang untuk membeli mobil atau rumah yang digunakan sendiri.

Hutang yang kami lakukan sebenarnya masuk dalam kategori hutang konsumtif. Namun meski demikian penggunaanya sangat bermanfaat jika dibandingkan mengontrak rumah terus menerus. Kami pikir ini lebih menguntungkan secara finansial ketimbang kami harus terus mengeluarkan uang untuk membayar rumah kontrakan yang hingga kapanpun rumah tersebut tidak akan pernah jadi asset milik kami. Konotasi hutang akan jadi tidak baik apabila digunakan untuk keperluan bergaya atau gengsi misalnya membeli tas bermerk seharga jutaan rupiah hanya untuk meningkatkan gengsi diantara teman-teman arisan.

Setelah sukses membeli rumah, saya dan suami mulai berpikir untuk masa depan buah hati kami. Saat ini anak kami masih berusia 4 tahun, belum begitu banyak uang yang dibutuhkan untuk membiayai sekolahnya. Namun kami yakin bahwa ke depannya nanti biaya pendidikan pasti akan semakin tinggi. Untuk itu dari sekarang kami juga sudah mulai menabung untuk biaya pendidikannya di masa depan nanti. 


Sumber gambar dari SINI
Namun kami juga sadar bahwa usia kami berdua akan terus bertambah. Kehidupan kami tidak akan terlepas dari resiko seperti kecelakaan, kematian dini, tua atau sakit yang membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar seperti jantung, stroke, kanker dan lain sebagainya. Jika hal tersebut sampai menimpa kehidupan seseorang, maka tak ada yang bisa menolaknya. Jika tidak punya persiapan, maka dana yang terkumpul untuk masa depan anak bisa saja habis terkuras bahkan asset yang dimiliki seperti tanah, rumah, mobil ataupun emas bisa juga habis terjual. Disinilah kami mulai berpikir bahwa kami perlu memasukkan asuransi dalam perencanaan keuangan yang telah kami buat.

Program asuransi memang dibuat dengan tujuan untuk mengantisipasi resiko dan kerugian yang mungkin terjadi dalam kehidupan kita. Dengan memiliki asuransi maka kerugian yang terjadi akan dipindahkan pada perusahaan asuransi. Jatuh sakit, cacat, kecelakaan, meninggal dunia, kehilangan harta benda adalah sejumlah kondisi yang memungkinkan bagi seseorang untuk mendapatkan klaim asuransi. Dalam memilih asuransi kita juga perlu memperhitungkan kemampuan membayar premi. Jangan sampai kita memaksakan diri sehingga pengeluaran bulanan kita jadi defisit karena beban tambahan membayar premi asuransi. Berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam memilih asuransi :

  1. Tentukan tujuan asuransi, apakah untuk asuransi pendidikan, asuransi kesehatan atau asuransi jiwa plus investasi.
  2. Pilihlah jangka waktu pembayaran premi yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan.
  3. Tentukan besar angsuran premi yang sesuai dengan kemampuan keuangan kita.
  4. Pelajari resikonya jika kita ingin mengambil asuransi plus investasi.
  5. Pilih perusahaan asuransi yang kredibilitasnya terpercaya dan keuangannya sehat.
Bicara soal perusahaan asuransi yang kredible, Sun Life merupakan salah satunya.  Di Indonesia, perusahaan ini telah melayani masyarakat sejak tahun 1995 dengan program layanan yang lengkap mulai dari produk-produk proteksi dan pengelolaan kekayaan, termasuk asuransi jiwa, pendidikan, kesehatan, dan perencanaan hari tua. Sun Life merupakan bagian dari Sun Life Financial yaitu salah satu organisasi keuangan terkemuka di dunia yang didirikan pada 1865 dan berkantor pusat di Toronto, Kanada. Dari sisi laporan keuangan perusahaan ini menunjukkan kondisi yang sangat baik yaitu Per 30 Juni 2013 , tingkat Risk Based Capital (RBC) Sun Life Financial Indonesia adalah 379 persen (konvensional dan syariah). Angka ini jauh melampaui ketentuan minimal yang ditetapkan oleh pemerintah yakni 120 persen, dengan aset Rp 5,31 triliun.


Mengelola keuangan keluarga memang harus dilakukan secara bijaksana, mengingat begitu banyaknya uang yang dibutuhkan untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Masing-masing keluarga tentu mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda, tak hanya melulu memenuhi kebutuhan pokok saja. Kebutuhan lain seperti ingin pergi haji, rekreasi, wisata ke luar negeri tentu juga jadi impian bagi setiap keluarga. Untuk bisa memenuhi semua kebutuhan tersebut tentunya diperlukan kondisi keuangan keluarga yang kuat dan sehat.

Agar dapat terwujud kondisi keuangan keluarga yang kuat dan sehat diperlukan yang namanya Melek Finansial.  Melek finansial adalah kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang. Melek finansial artinya mampu membaca dan memahami laporan keuangan. Orang yang melek finansial minimal harus memahami 2 (dua) bentuk laporan keuangan, yakni arus kas (cashflow) dan aktiva (harta). Cashflow terdiri dari pemasukan dan pengeluaran, sedangkan harta terdiri dari asset dan liabilitas. Sayangnya di Indonesia angka melek finansial masyarakat masih relatif rendah. Hasil survei PT Visa World Wide Indonesia mengenai Barometer Global Financial Literacy 2012 menyatakan Indonesia berada dalam peringkat ke-26 dari 28 negara di Asia. Hal ini secara nyata bisa dilihat di masyarakat kita, karena kebanyakan dari kita masih kurang tertarik apabila ditawari untuk berinvestasi atau membeli asuransi. Namun sebaliknya jika ditawari kredit dengan angsuran murah untuk keperluan konsumstif maka kita akan berbondong-bondong mangambilnya.

Dalam mengelola keuangan keluarga, menetapkan tujuan keuangan merupakan hal yang sangat penting. Dengan memiliki tujuan keuangan yang jelas maka kitapun dapat menyusun rencana keuangan yang sesuai. Setelah menyusun rencana yang sesuai kita juga perlu menyusun strategi agar tujuan kita tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Ibaratnya merencanakan sebuah perjalanan dari Jogjakarta ke Jakarta, kita perlu mengetahui kendaraan apa yang paling cepat dan efisien agar dapat sampai ke tujuan dengan selamat. Dalam hal mencapai tujuan keuangan, kendaraan yang dapat kita pakai adalah beragam produk keuangan seperti tabungan, deposito, reksadana, investasi, emas dan sebagainya. Dengan kemampuan melek finansial maka kita jadi bisa memahami keuntungan dan kerugian dari masing-masing produk keuangan tersebut sehingga investasi kita dapat menghasilkan return yang optimal.

Sumber gambar dari SINI
Membahas soal produk keuangan, setidaknya setiap rumah tangga minimal memiliki sejumlah produk keuangan seperti tabungan, asuransi pendidikan, asuransi kesehatan, asuransi jiwa dan kecelakaan serta dana pensiun. Dengan memiliki produk keuangan tersebut maka InsyaAllah masa depan keluarga akan lebih sejahtera. Untuk bisa memiliki produk keuangan tersebut diperlukan pengelolaan keuangan yang bijak sehingga sumber dana yang dimiliki bisa dialokasikan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Memang yang namanya rejeki itu sudah diatur oleh Tuhan namun tidak ada salahnya jika kita merencanakannya bukan? Jadi bagaimana dengan pengelolaan keuangan rumah tangga anda, sudahkah anda mengelolanya dengan bijak?

Sumber Referensi :
1.  http://www.sunlife.co.id
2.  Buku Rich Dad Poor Dad, Robert T.Kiyosakhi
3.  Buku Hemat 'Bisa' Miskin, Boros 'Pasti' Kaya , Rina Dewi Lina, Jakarta 2014


Tulisan ini diikutsertakan dalam Sun Anugerah Caraka
Kompetisi Menulis Blog 2014

Reactions:

14 komentar:

  1. kadang konsisten catat pengeluaran aja susyah ya mak? hehe.. sukses ngontesnya mommy Tayo

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang susah mak diba, tapi kalo udah jadi kebiasaan gampang kok:)

      Hapus
  2. untung segera sadar dan melek finansial ya mak.. jadi gak cuma punya henpon doang kayak pas umur 24 dulu.. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe..iya mak ofi. sekarang asetnya sudah bertambah. nggak cuma handphone doang..hehehe

      Hapus
  3. dulu saya juga mencatet pengeluaran secara rinci, eehhh kalau skrg berusaha set up utk membagi-bagi: saving (dlm tabungan), konsumsi, dan long term saving (asuransi).

    Sukses dengan GAnya Mak.

    BalasHapus
  4. saya juga berusaha seperti itu, tapi konsistennya itu lohh yg membuat semua jadi tidak tercatat. huhuh T_T .. bicara asuransi, sepertinya memang kita harus sadar ya,resiko bisa terjadi kapanpun. Sukses kontesnya ya mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak..emang susah untuk konsisten. betul..asuransi jaman sekarang penting banget:) sukses juga mak

      Hapus
  5. Asyik, keren banget tulisannya mami Tayooo... seperti biasa :-) insyaAllah menjuara mak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah..tulisan mak nurul juga selalu keren kok:)

      Hapus
  6. aku lg ngalamin yang bagian 'pertengahan bulan gaji kok sudah abis ya' ;)) duuuhh. emang harus udah dipikirkan yaa, pencatataaan yg rapi

    BalasHapus
    Balasan
    1. ati-ati mak kachan..apalagi bentar lagi punya baby..aku dulu juga ampe stres tiap tengah bulan uang udah habis. untung kami berdua segera introspeksi diri hehehe:)

      Hapus
  7. Hiks, maaf Momiyo, ternyata aku belum ninggal jejak :p
    Kompliitt, kok bisa sih nulis sepanjang ini? Setuju banget, gaji besar bukan jaminan hidup sejahtera kalau nggak bisa ngelola-nya. Sukses ya Mak Ari lombanya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. halah..tulisan mak grace juga selalu komplit dan keren kok. sukses juga mamak ubii:)

      Hapus

Terimakasih Teman-Teman Semua Atas Komentarnya :)