Memutus Rantai Masalah Kesehatan Melalui Edukasi Kesehatan Sejak Usia Dini Kepada Masyarakat

by - December 10, 2013

Dalam dunia kesehatan, mengubah perilaku masyarakat untuk mau menerapkan pola hidup bersih dan sehat merupakan sebuah tantangan yang masih sulit diatasi hingga saat ini. Banyak masyarakat yang saat ini masih dengan seenaknya melakukan perilaku seperti merokok, buang air besar sembarangan, membuang sampah tidak pada tempatnya, tidak mencuci tangan pakai sabun dan lain-lain yang mana perilaku ini dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit. Sebenarnya banyak juga masyarakat yang sudah mengetahui bahwa perilaku tersebut menyebabkan penyakit, namun kesadaran untuk mengubah perilaku mereka sendiri rasanya masih sangat berat untuk dilakukan.
Upaya-upaya penyuluhan telah banyak dilakukan dimasyarakat, seperti yang sering dilakukan oleh Puskesmas yang memiliki tanggungjawab untuk membina kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Selain memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat kuratif, Puskesmas juga berkewajiban untuk melakukan upaya-upaya kesehatan yang bersifat promotif dan preventif kepada masyarakat. Selama ini upaya promotif ini banyak diwujudkan dalam berbagai kegiatan penyuluhan kesehatan bagi kader kesehatan, ibu-ibu di posyandu atau kepada bapak-bapak dengan memanfaatkan forum pertemuan warga seperti arisan RT atau pertemuan di pedukuhan. Namun sepertinya kegiatan penyuluhan yang dilakukan tersebut belum banyak memberikan efek timbulnya perubahan perilaku yang positif dimasyarakat. Buktinya setiap tahun masih saja ada kasus kejadian demam berdarah dimana kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan merupakan penyebab utama dari masalah ini. Memang sih, yang namanya proses mengubah perilaku itu tidak semudah membalikkan tangan. Butuh waktu dan proses yang panjang dan tidak gampang untuk bisa berhasil mewujudkannya.

Dalam rangka mengubah perilaku masyarakat ini, sebenarnya ada hal yang tak kalah penting untuk  dilakukan sehingga perilaku hidup bersih dan sehat ini bisa menjadi kebiasaan yang membudaya di masyarakat. Yaitu dengan cara melakukan edukasi kesehatan sejak usia dini kepada masyarakat. Cara ini jika berhasil diterapkan maka otomatis juga akan dapat memutus rantai perilaku tidak sehat yang banyak dilakukan oleh orang dewasa pada saat ini. Contohlah Jepang, dahulu kebiasaan meludah sembarang tempat merupakan hal yang sangat biasa dilakukan disana dan sangat sulit untuk dirubah. Namun pemerintah Jepang kemudian menanamkan kebiasaan untuk tidak meludah sembarang tempat melalui edukasi kepada anak-anak. Terutama melalui sekolah-sekolah upaya edukasi ini sangat gencar dilakukan dan dikoordinasikan dengan baik. Hasilnya beberapa tahun kemudian perlahan-lahan generasi tua yang sudah sangat sulit untuk dirubah perilakunya mulai berkurang dan digantikan dengan generasi-generasi baru yang sudah mendapatkan edukasi untuk tidak meludah sembarang tempat. Akhirnya hingga kini kita bisa melihat, di Jepang sudah tidak ada lagi orang yang melakukan kebiasaan meludah sembarangan bahkan meludah sembarang tempat kini merupakan hal yang tabu untuk dilakukan di Jepang.

Upaya penyuluhan kesehatan yang dilakukan di Indonesia saat ini memang lebih banyak memilih orang dewasa sebagai sasarannya. Masih jarang dilakukan upaya penyuluhan kesehatan pada kelompok anak usia dini. Memang ada program kesehatan yang dilakukan untuk anak usia dini, namun lebih banyak berupa kegiatan pemeriksaan kesehatan seperti deteksi dini tumbuh kembang balita atau screening kesehatan anak sekolah. Anak-anak akan diperiksa Berat Badan, Tinggi Badan, lingkar kepala, kebersihan kuku, telinga, rambut , gigi serta perkembangan kemampuan motorik dan kognitifnya saja. Namun masih jarang dilakukan penyuluhan atau edukasi kesehatan secara khusus bagi anak-anak usia dini. Jikapun ada, biasanya hanya dilakukan setahun sekali saja. Padahal sebenarnya anak-anak usia dini ini akan lebih cepat menyerap pengetahuan yang diberikan dan juga lebih mudah untuk mau menerapkan dan menjadikan perilaku hidup bersih dan sehat yang telah diajarkan dalam kebiasaan hidup sehari-hari mereka. 

Seorang teman pernah bercerita tentang betapa sulitnya melakukan penyuluhan kesehatan pada anak usia dini. Dikatakan bahwa anak-anak cenderung ramai sendiri dan berlari-larian kemana-mana, tidak mau duduk tenang mendengarkan penyuluhan, begitu kata teman saya. Memang benar anak-anak usia dini ini punya karakter yang aktif dan sangat senang bergerak, sehingga jika ingin memberikan edukasi kesehatan maka sebaiknya dipilih metode yang sesuai dengan karakter mereka. Penyuluhan kesehatan dengan cara ceramah atau presentasi memang bukan metode yang pas untuk anak-anak usia dini. Ada banyak metode yang bisa dikreasikan seperti contoh berikut :

  • Mengajak anak bermain peran
Sumber gambar dari SINI
Anak-anak akan merasa lebih senang dan bersemangat jika diajak bermain peran, misalnya kita akan memberikan penyuluhan tentang masalah gizi seimbang. Tidak ada salahnya jika kita menyiapkan beberapa contoh bahan makanan sungguhan seperti beras,roti, mie, kentang, sayur bayam, wortel, brokoli, tempe, tahu, telur yang sudah direbus dan lain-lain. Letakkan semua bahan tersebut di meja kelas kemudian ajak anak-anak untuk membuat kelompok. Misalnya ada kelompok zat energi,  zat pembangun dan zat pengatur. Lalu secara bergantian ajak masing-masing kelompok untuk memilih bahan makanan, misalnya kelompok zat energi diajak untuk memilih jenis makanan yang banyak mengandung karbohidrat  yaitu beras, roti, mie, kentang. Selanjutnya kelompok zat pembangun diajak untuk memilih bahan makanan yang banyak mengandung protein seperti tempe, tahu, telur. Dan yang terakhir kelompok zat pengatur diajak untuk memilih bahan makanan seperti bayam, wortel, brokoli dan buah-buahan. Setelah itu kita ajak mereka untuk memilih salah satu bahan makanan dari masing-masing kelompok dan diletakkan pada piring-piring yang disediakan. Misalnya ada anak yang memilih kombinasi roti, telur dan wortel. Atau ada anak yang memilih beras, tempe,brokoli. Sambil melakukan kegiatan ini, anak-anak secara tidak langsung bisa belajar tentang bahan makanan apa saja yang harus mereka makan setiap hari. Setelah kegiatan ini selesai, petugas kesehatan bisa menyerahkan bahan makanan tersebut kepada guru sekolah agar bisa diolah dan disantap bersama dengan murid-murid mereka.

  •  Menggambar atau mewarnai bersama
Sumber gambar dari SINI
Anak- anak usia dini juga senang dengan kegiatan menggambar atau mewarnai, sehingga kegiatan ini juga bisa dimanfaatkan untuk melakukan edukasi kesehatan seperti dengan mengajak anak-anak mewarnai gambar menu gizi seimbang, dalam gambar bisa dijelaskan misal tentang nasi yang jumlahnya cukup 1/3 piring saja, lalu gambar berbagai macam jenis sayur dan lauk pauk yang jumlahnya 2/3 piring. Anak –anak diminta utuk mewarnai gambar tersebut dengan warna yang berbeda sehingga secara tidak langsung mereka juga bisa belajar tentang pola makan yang benar dimana jumlah sayur dan lauk pauk itu harus lebih banyak daripada nasinya.

  • Memutar Film
Sumber gambar dari SINI
Mengajak anak untuk menonton film bertema kesehatan juga bisa dilakukan, namun sayangnya film-film tentang edukasi kesehatan untuk anak usia dini ini masih jarang bisa ditemukan di Indonesia. Padahal di luar negeri sana sudah banyak film-film kartun yang dibuat oleh pemerintah dalam rangka mengedukasi anak-anak. Contohnya film kartun Word World yang dibuat oleh kementerian pendidikan amerika, film kartun tersebut dibuat dengan sangat menarik dan sangat bermanfaat untuk mengajak anak-anak belajar membaca. Film kartun tersebut juga ditayangkan di Televisi setiap hari, sehingga anak-anak bisa menyaksikannya dan mendapatkan banyak manfaat dari film kartun tersebut. Seandainya hal ini juga bisa diterapkan di Indonesia, misalnya pemerintah membuat film kartun anak yang didalamnya dimasukkan pesan-pesan kesehatan serta ditayangkan di TV setiap hari tentunya hal ini juga bisa memberi manfaat edukasi kesehatan bagi anak usia dini

  • Membuat acara penyuluhan kesehatan melalui dongeng 
Sumber gambar dari SINI
Mendongeng merupakan salah satu cara efektif dalam rangka menanamkan nilai-nilai kehidupan yang positif bagi anak-anak. Jaman dulu orang tua masih banyak yang senang mendongengkan anaknya dan nyatanya pesan moral dari dongeng tersebut bisa melekat erat dalam ingatan anak-anak hingga ia tumbuh dewasa. Dalam rangka memberikan edukasi kesehatan pada anak usia dini, cara ini juga dapat diterapkan. Apalagi saat ini juga telah banyak tersedia berbagai media untuk mendongeng seperti contohnya boneka tangan. Melalui dongeng boneka tangan ini sangat banyak pesan kesehatan yang bisa disampaikan, misalnya tentang pembiasaan menggosok gigi secara benar dan tertib, membuang sampah di tempatnya, membasmi jentik – jantik nyamuk dirumah, dan masih banyak pesan kesehatan lain yang bisa disampaikan melalui kegiatan ini. Tentunya anak-anak juga akan mau memperhatikan jika disampaikan dengan cara yang menarik dan sesuai dengan dunia mereka yang memang masih senang bermain

  • Menyanyi dan Menari bersama
Sumber gambar dari SINI
Pesan kesehatan juga bisa disampaikan secara efektif kepada anak-anak usia dini melalui kegiatan bernyanyi dan menari bersama. Sambil menyanyi, maka mereka akan bisa lebih mudah hafal dengan pesan kesehatan yang disampaikan, misalnya dengan lagu cuci tangan sebelum makan atau lagu bangun tidur. Namun sayangnya keberadaan lagu anak-anak saat ini sudah semakin langka dan kadaluwarsa, khususnya lagu anak yang bertema kesehatan. Akan lebih baik jika sekali waktu pemerintah mengadakan lomba cipta lagu anak bertema kesehatan kemudian lagu-lagu yang terpilih sebagai pemenang bisa direkam dan diajarkan kepada anak-anak di PAUD, Playgroup dan TK di seluruh nusantara. Tentu hal ini akan memberikan banyak manfaat positif bagi anak-anak ketimbang mereka menghafal dan menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang tidak jelas manfaatnya.

"peran orangtua sangat penting dalam pelaksanaan edukasi kesehatan anak usia dini"

Selain contoh metode yang saya paparkan diatas tentunya masih banyak lagi metode edukasi kesehatan pada anak usia dini yang dapat diterapkan di masyarakat. Namun yang terpenting adalah selain peran tenaga kesehatan serta guru di sekolah sebenarnya peran orangtua merupakan hal yang paling penting dalam rangka memberikan edukasi kesehatan pada anak usia dini. Apalah gunanya jika di PAUD, Playgroup atau TK, anak sudah mulai diajarkan tentang  perilaku hidup bersih dan sehat namun di rumah tidak ada motivasi dan contoh nyata perilaku hidup bersih dan sehat dari orangtuanya. 

Seperti masalah perilaku merokok,  sebagian masyarakat sudah tahu bahwa perilaku merokok dapat menimbulkan dampak negatif seperti penyakit stroke, jantung, kanker dan penyakit kardiovaskuler lainnya. Namun faktanya jumlah perokok di Indonesia masih sangat tinggi, dan tak jarang juga ada orang tua yang dengan seenaknya merokok di dekat anak-anaknya yang masih berusia bayi atau balita sehingga anaknya ini turut menjadi perokok pasif.  Dan tak jarang juga setelah anaknya tumbuh jadi remaja, maka si anak ini juga akan ikut-ikutan merokok seperti yang dilakukan oleh orangtuanya. 

Maka dari itu, selain memberikan edukasi kesehatan pada anak usia dini, penting  juga dilakukan edukasi kesehatan bagi para calon orangtua secara lebih terintegrasi melalui kegiatan konseling kesehatan bagi para calon penganten misalnya. Kegiatan ini dapat dikoordinasikan melalui KUA dan Puskesmas serta bisa dijadikan salah satu syarat utama menikah yaitu wajib mengikuti konseling kesehatan di Puskesmas. Dalam konseling ini bisa dimasukkan pesan-pesan seputar kesehatan ibu dan anak,  gizi ibu hamil, ASI eksklusif, bahaya merokok, perawatan bayi dan balita dan lain-lain yang bisa dijadikan bekal pengetahuan oleh para calon orangtua sehingga nantinya diharapkan mereka bisa melahirkan dan mendidik calon generasi penerus bangsa yang lebih sehat dan berkualitas.

Khusus untuk edukasi kesehatan pada anak usia dini, selain dilaksanakan pada tingkatan PAUD, Playgrup dan TK, perlu juga untuk dilaksanakan edukasi kesehatan secara kontinyu ditingkat SD dan sekolah lanjutan. Sebenarnya di tingkat sekolah dari TK,SD,SMP,SMA juga sudah ada program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).  Program UKS ini telah dirintis sejak tahun 1956. UKS dilaksanakan secara komprehensif melalui TRIAS UKS yang terdiri dari : 
Sumber gambar dari SINI
  1. Pendidikan Kesehatan
  2. Pelayanan Kesehatan, dan 
  3. Pembinaan Lingkungan Sekolah Bersih & Sehat
Pada tahun 1984, program UKS ini diperkuat dengan diterbitkannya Surat Keputusan Bersama 4 Menteri yaitu Menteri Pendidikan, Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama. Namun tampaknya hingga saat ini program UKS ini juga belum bisa berjalan secara optimal. Buktinya kasus-kasus merokok dikalangan pelajar, seks bebas, kejadian IMS dan HIV malah makin banyak terjadi pada anak-anak remaja usia sekolah. Lalu bagaimana peran UKS dalam rangka mencegah terjadinya masalah-masalah kesehatan pada anak remaja semacam ini? Dimana letak masalahnya hingga program ini tidak bisa berjalan baik seperti yang diharapkan. Apakah pada masalah koordinasi lintas sektornya yang belum bisa berjalan maksimal? Atau pada masalah sistem dan regulasi kesehatan di Indonesia yang saat ini memang pelaksanaannya masih sangat lemah?

Entahlah sebagai masyarakat awam, jujur saja saya kurang paham dengan masalah sistem dan regulasi kesehatan di Indonesia. Yang saya ketahui adalah hingga kini saya melihat Puskesmas juga belum bisa benar-benar maksimal dalam rangka memberikan pelayanan  kesehatan yang bersifat promotif dan preventif ini. Di beberapa daerah terpencil terkadang mutu pelayanan kuratif saja masih jauh dari standar mutu pelayanan yang ditetapkan. Apalagi jika dituntut untuk memberikan pelayaan promotif dan preventif yang bermutu. Kadang kegiatan penyuluhan kesehatan dilakukan hanya asal jalan saja, materinya mungkin sudah bagus namun metode yang digunakan tidak memikirkan siapa audiennya. Yang penting  kegiatan penyuluhan terlaksana. Masalah audiensnya mau paham atau tidak, mau mendengarkan atau tidak itu tidak penting. 

Padahal  sebenarnya edukasi kesehatan merupakan cara yang lebih murah untuk dilakukan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dibandingkan upaya-upaya kuratif yang membutuhkan biaya mahal. Sudah saatnya Indonesia menerapkan paradigma sehat dengan cara melakukan edukasi kesehatan secara lebih terarah, terprogram dan terus menerus dilakukan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.  Berbagai upaya inovasi perlu terus dikembangkan dalam rangka memberikan edukasi kesehatan pada masyarakat khususnya pada anak usia dini. Jika perlu dibuatlah semacam standar nasional edukasi kesehatan untuk anak usia dini sehingga kegiatannya bisa lebih jelas arah dan tujuannya serta lebih mudah untuk dilakukan monitoring dan evaluasinya.  Sehingga pada akhirnya nanti upaya ini bisa benar-benar mampu memutus rantai masalah kesehatan di Indonesia secara nyata.

You May Also Like

0 comments

Terimakasih Teman-Teman Semua Atas Komentarnya :)